HARI-HARI PERINGATAN
Momen-momen Penuh Makna

E. MEI

HARI-HARI PERINGATAN

1 Mei = Hari Buruh Sedunia

2 Mei = Hari Pendidikan Nasional

3 Mei = Hari Kebebasan Pers Sedunia

4 Mei = Hari Pemadam Kebakaran Sedunia

5 Mei = Hari Bidan Internasional

8 Mei = Hari Palang Merah Sedunia (1864)

8 Mei = Hari Orang Tua

10 Mei = Hari Lupus Sedunia

12 Mei = Hari Perawat Internasional

15 Mei = Hari wafatnya Patimura

15 Mei = Hari Keluarga Internasional

17 Mei = Hari Komunikasi Internasional

17 Mei = Hari Internasional Melawan Homopobia

20 Mei = Hari Kebangkitan Nasional

21 Mei = Hari Buku

21 Mei = Hari Dialog dan Pengembangan Perbedaan Budaya Sedunia

22 Mei = Hari Keanekaragaman Hayati

29 Mei = Hari Lansia Nasional

29 Mei = Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB

30 Mei = Hari wafatnya Dr. Soetomo (1938)

31 Mei = Hari Tanpa Tembakau Sedunia

1 MEI 2009 – HARI BURUH SEDUNIA: KETIKA BURUH MENAGIH JANJI

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (1 Mei 2009)

PEMILU legislatif telah berlalu. Para wakil rakyat terpilih segera menduduki kursinya dan berkiprah. Tak lama lagi, presiden dan wakilnya yang juga akan dipilih, segera menduduki tahta dan menunaikan tugasnya. Pada saat itulah rakyat akan menagih janji-janji mereka. Di era krisis sekarang, kaum buruh akan menjadi kaum penagih janji yang tak pernah berdiam diri. Tulisan ini merangkumkan tagihan-tagihan mereka.

Sejarah telah mencatat bagaimana kaum buruh berjuang untuk nasib mereka dan terkadang tak dihiraukan. Perjuangan mereka sering dianggap sebagai sebuah pemberontakan. Di Indonesia, perjuangan kaum buruh – bahkan sampai sekarang – cenderung dicitrakan negatif. Tak jarang diindentikkan dengan gerakan sosialis-komunis yang oleh rezim ORBA diberi label tidak positif.

Selama 4 hari sejak 1 Mei 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka manjadi hanya 8 jam sehari. Pada 4 Mei 1886, ketika mereka mengadakan pawai besar-besaran, polisi Amerika Serikat menembaki para demonstran itu. Ratusan orang tewas mengenaskan. Para pemimpin demo itu pun ditangkap dan dihukum mati.

Tragedi “Haymarket” di Chicago Illinois mendorong dunia membuat hari peringatan khusus untuk kaum buruh. Pada Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diadakan di Paris (Perancis) menetapkan peristiwa tragis di Amerika Serikat itu sebagai Hari Buruh Internasional (tanggal 1 Mei).

Karena peringatan Hari Buruh itu jatuh pada bulan Mei maka dikenal pula dengan istilah ”May Day”. Adapun “mayday” juga mengingatkan kita akan ungkapan seruan yang dilontarkan oleh pilot pesawat terbang atau nakoda kapal saat melaporkan keadaan mereka yang mengalami bahaya maut (kecelakaan). Hal itu menggambarkan nasib kaum buruh. Mereka terjepit dalam bahaya ekonomi. Mereka terhimpit dan terhempas. Namun, seruan mereka minta tolong acapkali tidak didengar atau sengaja diabaikan.

Dalam dunia industri, buruh merupakan komoditi dalam sebuah proses produksi. Buruh menyediakan tenaga bagi proses produksi. Dengan demikian, buruh mempunyai hubungan sosial yang khusus dengan manajemen. Hubungan itu bersifat kontraktual yang tiada lain merupakan ikatan berdasar uang. Buruh memberikan kuantitas dan kualitas tenaganya kepada manajemen untuk kemudian memperoleh sejumlah uang sebagai imbalan. Dengan cara seperti itu, buruh bisa menyambung hidupnya.

Kaum buruh berada di posisi terendah karena sifat birokrasi industri. Buruh berada di bagian terbawah dari sebuah hirarki wewenang. Buruh berada di ujung sebuah rantai komunikasi dan perintah. Eugene V. Schneider menyebut buruh sebagai kaum awam yang diperintah atau dikelola oleh sebuah hirarki birokratis.

Kecuali itu, kehadiran teknologi yang serba otomatis semakin memperpuruk status dan peran para buruh dalam sebuah sistem industri. Demi kepentingan efisiensi dan rasionalisasi, peran buruh semakin hari semakin tersingkirkan. Semakin lama buruh semakin kalah bernilai dibanding dengan mesin-mesin yang canggih. Tenaga kasar mereka semakin tidak dibutuhkan.

Dalam industri, kesenjangan antara buruh dan majikan sangat nyata. Kontak buruh dengan atasan terbatas pada urusan menerima dan mentaati perintah, meminta penjelasan tentang perintah itu, atau memberikan laporan tentang apa yang sudah dikerjakannya. Manajemen cenderung bersikap dingin dan impersonal. Kontak buruh dengan tingkat manajemen terbatas pada perintah-perintah yang disampaikan melalui pengawas manajemen tingkat menengah.

Sehubungan dengan status dan perannya dalam industri, buruh tidak mempunyai banyak pilihan. Bagi buruh, pekerjaan mereka adalah sumber penghasilan yang pertama sekaligus yang utama. Kaum buruh bekerja untuk makan dan menyambung hidup. Mereka menggantungkan nasib pada perusahaan atau pabrik tempat mereka bekerja. Buruh adalah obyek dari kekuasan dan wewenang para majikan.

Sebaliknya, para pimpinan mempunyai banyak pilihan. Kemenangan mereka adalah karena memiliki modal. Bekerja bagi mereka adalah untuk mendapatkan kekuasaan, prestasi, kemerdekaan, dan kebebasan. Bagi mereka, ”imbalan uang” merupakan lambang kesuksesan dan pengakuan terhadap harga diri.

Posisi yang lemah ini membuat para buruh mudah ditindas. Karena itu, mereka berteriak meminta keadilan. Menurut Eugene V. Schneider, aspirasi para buruh dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Pertama, harapan untuk mempunyai status sosial yang baik. Sebagai ”wong cilik”, mereka tidak mau narima ing pandum begitu saja. Wajar jika mereka ingin menjadi warga masyarakat yang bermartabat.

Kedua, harapan untuk perbaikan ekonomi. Itu berarti mereka merindukan upah yang cukup tinggi dan teratur sehingga bisa hidup normal. Bahkan, mereka bisa menyisihkan uang untuk keperluan-keperluan seperti biaya kesehatan, biaya pengobatan saat mengalami kecelakaan, dana hari tua, dan pendidikan untuk anak-anak.

Ketiga, harapan untuk kondisi kerja yang baik. Jangan memandang buruh sebagai komoditi produksi semata-mata, yang datang ke tempat kerja untuk menukarkan tenaga dengan uang. Buruh juga manusia, punya rasa dan punya hati. Tujuan hidupnya tidak melulu upah yang tinggi. Buruh membutuhkan sebuah kehidupan kerja yang membuatnya berbahagia. Menurut riset, ada 10 hal yang membuat buruh bahagia: (1) pekerjaan tetap, (2) kondisi kerja yang menyenangkan, (3) teman-teman sekerja yang baik, (4) bos yang baik, (5) kesempatan untuk maju, (6) gaji atau upah yang tinggi, (7) kesempatan untuk menggunakan gagasan sendiri, (8) kesempatan untuk mempelajari suatu pekerjaan, (9) jam kerja yang baik, (10) pekerjaan yang tidak berat.

Keempat, harapan untuk memiliki kebebasan pribadi. Ini merupakan harapan terpendam di dalam jiwa mereka karena mereka hidup dalam ketidakberdayaan. Kaum buruh diperdaya oleh gerakan-gerakan ekonomi yang besar, perusahaan-perusahaan, dan tuntutan-tuntutan teknologi canggih. Mereka mendambakan kebebasan.

Kelima, harapan untuk bisa mengerti kekuatan-kekuatan yang memperdaya mereka. Apalagi ketika mereka diperlakukan tidak adil. Mereka pun menggugat.

Keenam, harapan rekreasional. Kaum buruh yang membanting tulang setiap hari membutuhkan liburan dan waktu untuk bersenang-senang. Kalau bos mereka pulang pergi keluar negeri untuk bertamasya, mereka juga ingin sedikit menikmati hidup

Pada jaman ORBA, Peringatan Hari Buruh Sedunia (1 Mei) tidak diperbolehkan. Rezim ORBA menetapkan peringatan hari buruh sendiri menurut versi yang sudah dimodifikasi demi kepentingan mereka, yaitu “Hari Pekerja Nasional” setiap tanggal 20 Februari (SK Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No Kep 43/Men/1977 dan Keppres No 9 Tahun 1991). Sekarang, di era reformasi, kaum buruh bebas bersuara. Semoga seruan mereka minta tolong – mayday, mayday, mayday ­– didengar dan ditindaklanjuti oleh para pemimpin terpilih yang sejak awal berkoar-koar dan berjanji untuk menolong kaum lemah. Selamat Hari Buruh Sedunia!

21 MEI – HARI DIALOG DAN PENGEMBANGAN KEBERAGAMAN BUDAYA: YOGYA, MASYARAKAT MINI INDONESIA

Oleh Sudomo Sunaryo

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (18 Mei 2009)

Tanggal 21 Mei merupakan Hari Dialog dan Pengembangan Keberagaman Budaya Sedunia (World Day for Cultural Diversity for Dialogue and Development). Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah melihat dan merasakan bagaimana perbedaan kebudayaan menjadi masalah besar. Konflik demi konflik terjadi karenanya. Oleh sebab itu, Konferensi Umum United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengadopsi deklarasi tentang keberagaman budaya (Universal Declaration on Cultural Diversity) yang telah diluncurkan di Paris, Perancis. Dan, pada 20 Desember 2002, Majelis Umum PBB mendeklarasikan tanggal 21 Mei sebagai Hari Dialog dan Pengembangan Keberagaman Budaya Sedunia itu.

Bagi bangsa Indonesia, hari peringatan itu meneguhkan keberadaan multikulturalisme di tanah air. Betapa tidak, Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman kebudayaan. Menurut Hildred Geertz sebagaimana dikutip Nasikun (1988), Indonesia mempunyai lebih dari 300 suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Adapun menurut Skinner yang juga dikutip Nasikun (1988) Indonesia mempunyai 35 suku bangsa besar yang masing-masing mempunyai sub-sub suku/etnis yang banyak.

Bagi Yogyakarta, hari peringatan itu juga menggairahkan semangat keberagaman budaya yang telah tumbuh subur di kota budaya ini. Dulu Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah menegaskan bahwa Yogyakarta merupakan ”masyarakat mini Indonesia”. Hal itu tidak berlebihan karena di kawasan ini tinggal bermacam-macam orang dari berbagai latar belakang budaya dan agama yang berbeda. Apalagi sebagai pusat pendidikan, banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah tinggal dan menuntut ilmu di Yogyakarta.

Sejak berdirinya, Kasultanan Yogyakarta merupakan sebuah komunitas yang heterogen atau plural (Subkhan, 2007). Mulai tahun 1900-an muncul nama-nama kampung yang berdasarkan etnis para warganya. Kampung Kranggan didominasi etnis Cina. Kampung Sayidan didiami orang-orang Arab. Kampung Menduran merupakan kawasan orang-orang Madura. Kampung Bugisan ditinggali oleh orang-orang Bugis.

Nama-nama kampung di Yogya juga menunjukkan keberagaman profesi masyarakatnya. Kampung-kampung di wilayah Kraton (jeron beteng) dinamai berbeda-beda sesuai profesi masyarakatnya. Misalnya, kampung Mantrigawen (warganya adalah abdi dalem pegurus rumah tangga Kraton), kampung Siliran (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menyalakan lampu penerangan), kampung Patehan (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menyediakan minuman teh), kampung Nagan (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menabuh gamelan), dan kampung Kauman (warganya adalah abdi dalem yang bertugas dalam bidang keagamaan).

Toleransi dan Harmoni

Sekalipun sangat beragam, Yogyakarta terkenal dengan toleransi dan keharmonisannya. Karena itu Yogya dijuluki sebagai “the city of tolerance” dan “the city of harmony”. Kedamaian seperti itu sudah terjadi sejak dulu.  Menurut catatan Subkhan (2007), pada jaman HB II pernah ada seorang keturunan Tionghoa menjabat Bupati Kota Yogyakarta. Namanya adalah Raden Tumenggung Setyadiningrat alias Tan Jin Sing. Di Yogya tidak pernah terjadi konflik Jawa-Cina sebagaimana terjadi di kota-kota lain.

Toleransi dan harmoni Yogya perlu disyukuri. Kita telah melihat sendiri bagaimana kota-kota di Indonesia tercabik-cabik oleh konflik SARA. Ambon yang terkenal indah dan permai sempat porak-poranda karena konflik SARA. Poso yang dikenal damai sempat remuk redam karena konflik serupa. Banyak kawasan di negeri ini gagal menjaga kebersamaan dalam kebhinnekaan.

Memang, masyarakat majemuk sangat berpotensi konflik. Dalam bukunya, ”Pluralism and Polity: A Theoritical Exploration” (1969), Pierre L van Berghe mengingatkan karakteristik masyarakat majemuk sebagai berikut. Pertama, dalam masyarakat ini terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali mempunyai sub-kebudayaan yang berbeda-beda satu sama lainnya. Kedua, masyarakat mempunyai struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-komplementer. Ketiga, masyarakat kurang mengembangkan konsensus di antara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar. Keempat, masyarakat relatif sering mengalami konflik-konflik antar kelompok yang ada di dalamnya. Kelima, integrasi sosial dalam masyarakat sering terjadi karena paksaan dan saling ketergantungan dalam ekonomi. Keenam, terdapat dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.

Dialog dan Pengembangan

Karena potensi-potensi konflik dan perpecahan seperti diungkapkan Berghe itu, keharmonisan dalam masyarakat majemuk harus senantiasa dijaga. Seperti diperingati setiap 21 Mei, cara efektifnya adalah dengan memajukan dialog dan usaha-usaha pengembangan multikulturalisme itu sendiri.

Dialog budaya seharusnya bukan hanya sebuah seremoni atau momen formal yang bersifat artifisial. Dialog budaya seharusnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Waktu saya kuliah di Publisistik UGM dulu, saya mempunyai banyak kawan. Beberapa dari mereka berasal dari luar Jawa. Mereka yang dari jauh mondhok (tinggal) di keluarga-keluarga Yogya. Hubungan mereka dengan keluarga-keluarga yang mereka tinggali sangat akrab, tidak seperti hubungan anak kos dengan ibu kos yang terjadi sekarang ini. Hubungan-hubungan itu bersifat kekeluargaan dalam kerangka kehidupan paguyuban (gemeinchaft) yang kental. Perbedaan suku dan agama tidak menghalangi tumbuhnya rasa kekeluargaan itu. Karena itu, setelah para mahasiswa itu lulus dan menyebar ke seluruh nusantara, mereka merasa bahwa bukan hanya UGM almamaternya, tetapi Yogyalah almamater mereka. Semangat keleluargaan Yogya melekat di hati mereka.

Disamping dialog, keberagamaan budaya harus senantiasa dikembangkan. Para pemimpin harus bisa mengayomi semuanya. Tidak pilih kasih. Pendidikan multikulturalisme juga harus diajarkan kepada masyarakat dan generasi muda, baik dalam lingkup pendidikan formal, non-formal, maupun informal. Bebagai event budaya juga harus dikembangkan bukan hanya sebagai sebuah hiburan atau ajang mencari keuntungan, tetapi sebagai wahana pendidikan multikulturalisme. Pendidikan moral Pancasila harus digalakkan kembali untuk merevitalisasi jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika di seluruh Indonesia.

31 MEI – HARI TANPA TEMBAKAU: DUNIA TANPA ROKOK, MUNGKINKAH?

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (31 Mei 2007)

Iklan rokok adalah iklan yang paling ambigu. Rokok selalu ditawarkan sebagai sesuatu yang paling hebat. Namun, pada saat yang sama, rokok diiklankan sebagai produk yang berbahaya. Di akhir iklan – baik di media massa cetak maupun elektronik – selalu ditulis: ”merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”.

Kenyataannya, peringatan keras bernada intimidatif namun obyektif itu tidak pernah digubris. Hampir 1 milyar laki-laki di dunia ini merokok. Di negara-negara maju, kaum pria perokok jumlahnya 35 persen dari populasi. Di negara-negara berkembang besarnya 50 persen dari populasi. Setiap hari, 250 juta wanita di seluruh dunia asyik merokok. Di negara-negara maju, besarnya 22 persen dari populasi. Di negara berkembang, besarnya 9 persen dari populasi.

100 Juta Kematian

Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa rokok adalah setan pencabut nyawa yang paling haus darah. Dalam buku The Tobacco Atlas terbitan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (2002), dilaporkan bahwa 50 persen perokok meninggal karena penyakit akibat rokok. Pada abad ke-20, 100 juta jiwa meninggal karena rokok. Menurut prediksi para ahli, jumlah kematian itu bisa berlipat 10 kali pada abad ke-21. Dengan demikian, merokok lebih berbahaya daripada virus HIV/AIDS, penyalahgunaan obat terlarang, kecelakaan lalu-lintas, maupun kejahatan (pembunuhan).

Menghentikan kebiasaan merokok adalah solusi untuk pengurangan angka kematian global. The Lancet, sebuah jurnal kesehatan di Inggris, menyatakan bahwa menurunkan jumlah perokok dunia hingga 20 persen sebelum tahun 2020 dapat menghindarkan 100 juta kematian akibat tembakau.

Indonesia Pro-Rokok?

Meskipun berbagai upaya pengurangan kebiasaan merokok dilakukan, masyarakat tetap saja merokok. Di Amerika Serikat, khususnya New York, telah dilakukan berbagai cara untuk menekan kebiasaan merokok. Walikota Michael Bloomberg dan Ketua Komisi Kesehatan  Thomas Frieden melakukan usaha-usaha seperti menaikkan pajak, membatasi iklan, memperluas area bebas merokok, dan membantu terapi para pecandu rokok. Saat ini, harga sebungkus rokok di New York sudah lebih dari US $ 7 (sekitar Rp. 63.000). Dengan berbagai kebijakan itu, jumlah perokok memang turun sampai 20 persen. Tetapi, para pendatang baru di dunia berasap ini tetap terus bertambah setiap harinya.

Bagaimana dengan Indonesia? Hasil riset menunjukkan bahwa dua per tiga perokok di seluruh dunia adalah mereka yang tinggal di 15 negara yang berpendapatan menengah ke bawah. Separuh dari mereka tinggal di negara-negara Cina, India, Rusia, Bangladesh, dan Indonesia. Kita masuk dalam 5 besar pengguna tembakau dunia.

Sepertinya, Indonesia kurang bersikap dan bertindak tegas soal rokok. Pertama, pemerintah tidak berusaha membatasi dengan meningkatkan cukai yang tinggi. Cukai rokok di Indonesia terendah di kawasan Selatan-Timur Asia. Padahal, di Thailand bisa 60 persen, di India 70 persen, bahkan 75 persen di Nepal, Maldives, dan Myanmar.

Kedua, tidak ada pembatasan yang signifikan untuk pengiklanan produk rokok. Di Indonesia, iklan rokok justru merebak di berbagai media massa cetak dan elektronik. Di tempat-tempat umum, dari kota sampai pelosok pedesaan, iklan rokok mudah dijumpai. Di India, tidak boleh ada iklan rokok di media massa cetak dan elektronik. Poster dan baliho iklan rokok juga tidak boleh di pasang di pinggir jalan-jalan raya.

Ketiga, Indonesia telah menunda-nunda untuk ikut meratifikasi Framework Convention on Tobacco (FCTC). Ini merupakan konvensi internasional untuk pengendalian tembakau. Sampai pada awal tahun 2006 saja, 168 negara dan seluruh negara di ASEAN sudah ikut meratifikasi.

Bagi Indonesia, masalah rokok memang dilematis. Di satu sisi, pemberantasan rokok sangat berarti untuk menyehatkan bangsa dan membangun generasi baru. Di sisi lain, kalau rokok dikontrol terlalu ketat, pendapatan pemerintah dari cukai rokok menurun, banyak orang kehilangan pekerjaan, dan ekonomi makro pun terguncang. Siapa mau mengganti pendapatan negara dari rokok yang lebih dari Rp. 30 trilyun itu?

Konsep Hidup

Melenyapkan rokok sama sekali dari dunia ini rasanya hampir tidak mungkin. Industri rokok sudah menjadi bagian dan bahkan pilar penyangga dari sistem ekonomi. Perusahaan-perusahaan rokok semakin hari semakin kuat. Di Amerika Serikat, perusahaan rokok setidaknya mengalokasikan US $ 50 per konsumen tiap tahun untuk kepentingan iklan dan pemasaran di seantero negeri. Kecuali itu, merokok sudah sedemikian membudaya dalam kehidupan masyarakat.

Sejarah mencatat berbagai usaha keras telah ditempuh untuk memberantas budaya merokok. Ketika Sir Walter Releigh memperkenalkan tembakau di Eropa, penolakan keras datang dari para pemuka agama, bangsawan, dan cendekiawan. Para pengguna tembakau dianiaya di Rusia, dibunuh di Turki, dan dipenjarakan di Switzerland. Paus Urban VIII menentang keras. Raja James I dari Inggris memproklamirkan bahwa tembakau itu jahat karena merusak kesehatan otak, paru-paru, dan mata.

Pada dasarnya, kebiasaan merokok tidak bisa dihentikan begitu saja. Merokok adalah sebuah gaya hidup. Ada alasan-alasan kompleks mengapa seseorang menjadi perokok. Faktor ketagihan dan kenikmatan bukan satu-satunya alasan. Karena itu, sangat tidak mudah untuk membujuk seseorang supaya berhenti merokok. Bahkan, sekalipun sudah jatuh sakit dan miskin, asap tembakau di mulut tetap terus mengepul.

Yang perlu dilakukan adalah penanaman nilai-nilai budaya sejak dini. Ini lebih dari sekedar pendidikan kesehatan dan pemberian pengetahuan tentang bahaya rokok. Ini harus merupakan penanaman filosofi kehidupan. Dulu, saat pertama kali orang Indian Huron mulai merokok, itu bukan karena ketagihan. Mereka merokok sebagai sebuah ritual untuk menghormati dewi kesuburan. Merokok adalah sebuah tindakan simbolik religius, bukan untuk merusak tubuh demi pemuasan hawa nafsu. Sekarang, rokok sudah diubah fungsinya untuk kenikmatan sesaat. Hal itu sama seperti seks. Perilaku seks bebas mewabah karena orang modern tidak lagi mengkeramatkannya. Seks berubah fungsi menjadi komoditi bisnis kapitalistik dan gaya hidup rendahan yang hedonistik.

Sejak dini, anak-anak kita harus diajari tentang konsep kehidupan. Sebagai contoh adalah penanaman konsep bahwa tubuh adalah anugerah Tuhan. Merusak tubuh dengan cara apapun, meskipun itu menyenangkan, adalah dosa. Ketika filosofi ini tertanam kuat dan kemudian informasi ilmiah tentang bahaya merokok dibeberkan, anak-anak kita akan bisa mengambil keputusan untuk tidak merokok. Cara itu akan jauh lebih efektif daripada pemberian motivasi ekstrinsik dengan cara dipaksa-paksa, ditekan-tekan, dan diintimidasi ini dan itu. Sayangnya, pendidikan kita sekarang sering hanya bersifat pengetahuan (informatif) dan bukannya bersifat pembentukan watak dan kepribadian secara filosofis.

Advertisements

No Responses to “E. MEI”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: