HARI-HARI PERINGATAN
Momen-momen Penuh Makna

J. OKTOBER

HARI-HARI PERINGATAN

1 Okt = Hari Vegetarian Sedunia

1 Okt = Hari Lanjut Usia Sedunia

1 Okt = Hari Kesaktian Pancasila

2 Okt = Hari Batik Sedunia

2 Okt = Hari Tanpa Kekerasan Internasional

2 Okt = Hari Habitat Internasional

2 Okt = Hari Hewan Ternak Sedunia

3 Okt = Hari wafatnya HB IX (1988)

4 Okt = Hari Hewan Sedunia

5 Okt = Hari ABRI

5 Okt = Hari Guru Sedunia (5 Okt 1966 = deklarasi Joint ILO/UNESCO Recomendation Concerning the Status of Teachers

7 Okt = Hari Reduksi Resiko Bencana Dunia

9 Okt = Hari Pos Sedunia

9 Okt = Hari Surat-menyurat Internasional

10 Okt = Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

10 Okt = Hari Internasional Menentang Hukuman Mati

10 Okt = Hari Tabungan Nasional

11 Okt = Hari wafatnya P antasari (1862)

15 Okt = Hari Wanita Pedesaan Sedunia

15 Okt = Hari Jadi Kab Kulon Progo

16 Okt = Hari Pangan Internasional

17 Okt = Hari Penanggulangan Kemiskinan Sedunia

18 Okt = Hari Perpustakaan Sekolah Sedunia

19 Okt = Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari

20 Okt = Hari Osteoporosis Sedunia

24 Okt = Hari Ulang Tahun Perserikatan Bangsa-bangsa

26 Okt = Hari Keuangan

27 Okt = Hari PLN

28 Okt = Hari Sumpah Pemuda

28 Okt = Hari Lahirnya Lagu Kebangsaaan Indonesia Raya

19 Okt = HUT Golkar

30 Okt= Hari Keuangan

1 OKTOBER – HARI LANSIA SEDUNIA: MEMBERDAYAKAN MANULA

Oleh Sudomo Sunaryo

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (9 Oktober 2009)

Tanggal 1 Oktober adalah Hari Manula (manusia usia lanjut) atau lansia (lanjut usia) sedunia (International Day of Older Persons). Peringatan itu tidak dalam rangka untuk mengasihani manula, namun untuk mendorong upaya pemberdayaan mereka. Dalam deklarasi WHO di Brasil pada 1996 dinyatakan, ”Ageing ia a development issue. Healthy older persons are a resource for their families, their communities and their economy” (Menjadi tua adalah masalah pembangunan. Kesehatan para manula adalah sumber daya bagi keluarga, komunitas, dan ekonomi).

Dalam kenyataannya, para manula sering menjadi beban karena kemerosotan mental dan fisik mereka. Karena itu keluarga-keluarga merasa tidak nyaman dengan keberadaan mereka. Banyak keluarga kemudian menyerahkan para manula ke panti-panti jompo. Di tempat-tempat ini para lansia dirawat dengan diperlakukan sebagai orang-orang tak berdaya yang perlu dikasihani karena cenderung terpinggirkan.

Benarkah para manula merupakan manusia-manusia kelas dua yang tidak lagi berarti? Haruskah para manula menerima takdir kemerosotan mental dan fisik itu begitu saja? Sekarang di dunia ada 600 juta penduduk manula (di atas usia 60-an tahun) dan akan bertambah dua kali lipat pada 2025 (Zulkifli, 2009). Kalau begitu, akankah dunia semakin terbebani dengan banyaknya manusia-manusia tanpa arti itu?

Psikolog Elizabeth B Hurlock mengklasifikasifikasikan manula menjadi dua. Pertama, masa usia lanjut dini, yaitu antara usia 60 sampai usia 70 tahun. Kedua, masa usia lanjut, yaitu dari usia 70 tahun sampai akhir hayat seseorang. Secara umum, sejak manusia memasuki usia 50 tahun akan mengalami kemunduran secara fisik dan psikologis. Pada fase manula dikenal istilah senescence atau kemunduran fisik dan mental karena faktor usia. Ada juga istilah sanility atau keuzuran yang menunjuk proses penurunan mental yang terjadi pada masa lanjut usia tersebut. Secara umum, manula akan mengalami penurunan dalam kekuatan, kecekatan, kemampuan belajar ketrampilan baru, dan kegesitan. Belum lagi jika mengalami sakit penyakit. Manula menjadi rentan dan semakin hari semakin lemah. Dalam hal keuzuran, manula bisa mengalami kepikunan.

Namun, harus diingat bahwa pemeliharaan kesehatan dengan makanan sehat dan olahraga teratur bisa memperpanjang usia harapan hidup dan mempertahankan vitalitas pada masa lanjut usia. Luella Tyra bahkan memenangkan kompetisi dalam lima kategori dalam US Swimming Nationals di Mission Viejo (California) pada usia  92 tahun. Sampai usia 78 tahun, Lloyd Lambert dikenal sebagai pemain ski andal.

Riset mutakhir juga membuktikan bahwa kemampuan otak manusia masih bisa hebat sampai pada usia renta. Douglas Powell dari Universitas Harvard meneliti kemampuan matematika dan bahasa dari 1.500 orang  yang berusia 25 sampai 92 tahun. Ternyata, 33% dari mereka yang berusia 80 tahun bisa mendapatkan skor yang tidak berbeda dengan mereka yang jauh lebih muda.

Pandangan yang mengatakan bahwa setelah manusia berusia 50 tahun maka kemampuan otaknya akan merosot ternyata tidak sepenuhnya benar. Para pakar seperti Robert Onstein dan Charles Swencionis menyatakan bahwa otak manusia tidak selalu akan kehilangan sel-selnya. Bahkan, meskipun sudah sangat lanjut usia, otak manusia masih dapat mengembangkan dendrit-dendrit baru. Sel-sel otak para lansia juga masih bisa menumbuhkan sambungan-sambungan baru.

Kenyataannya, banyak orang meraih prestasi hebat justru ketika mereka sudah lanjut usia. Marry Baker Edy mendirikan surat kabar ketika berusia 87 tahun. Bertrand Russel tampil menjadi tokoh perdamaian dunia ketika berusia 94 tahun. Picasso menghasilkan karya-karya hebat saat menginjak usia 90 tahun. George Bernard Shaw menulis Farfetched Fables pada usia 93 tahun. Mildred Wirt Benson tetap menulis pada Toledo Blade sampai meninggalnya pada usia 97 tahun. Henry Matisse menjadi ilustrator terkenal saat berusia 80 tahun. Pada usia 76 tahun, Alexander von Humbolt menulis The Kosmos dan tetap menulis sampai usia 90 tahun. Pada usia 39 tahun, George Abbott menghasilkan karya besar Broadway. Ia tetap menjadi penulis, aktor, director, dan produser produktif sampai usia lanjut. Saat berumur 75 tahun, Abbott malahan memproduksi A Funny Thing Happened on the Way to the Forum.

Dengan pembinaan fisik dan mental yang baik, manula terbukti tetap bisa produktif. Apalagi jika aspek kejiwaan dan kerohanian mereka terus bertumbuh, pastilah tetap tegar sampai akhir hayat. Indonesia juga tak kekurangan tokoh manula yang berprestasi.

Peringatan Hari Lansia Sedunia membangkitkan semangat para manula di seluruh dunia, menanamkan cara pandang positif masyarakat terhadap para lansia. Pada 1996, Presiden Soeharto menetapkan tanggal 29 Mei sebagai Hari Lansia Nasional. Dipilihnya tanggal itu adalah untuk memperingati Radjiman Wedyodiningrat yang berhasil memimpin Sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945 silam. Meskipun Radjiman sudah sepuh (waktu itu 66 tahun), beliau berhasil memimpin kegiatan bersejarah itu hingga terumuskan rancangan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. Artinya, tidak ada alasan bagi para manula untuk terus mengembangkan dan mendarmabaktikan potensi diri bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.

Sepuluh tahun setelah saya pensiun, saya belajar untuk tidak berhenti berkarya. Satu hal yang mendorong saya untuk terus aktif adalah visi. Jika para manula tidak mempunyai visi, ia hanya akan menjalani sisa-sisa hidupnya dengan tanpa makna. Dengan memiliki visi mengabdi pada Tuhan, bangsa, dan masyarakat, sampai putih rambut pun kita terus akan berjuang untuk berkarya.

*) Drs Sudomo Sunaryo, mantan Aksekwilda I DIY.

2 OKTOBER 2009 – HARI BATIK SEDUNIA: LANJUTKAN TRADISI DENGAN SENTUHAN KREATIF

Oleh Livy Laurens

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (2 Oktober 2009)

Setelah seni budaya kita mengalami dirongrong bangsa lain, kini Indonesia boleh berbangga karena UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) mengakui eksistensi batik Indonesia sebagai warisan pusaka dunia. Peningkatan peringatan Hari Batik Nasional menjadi Hari Batik Sedunia pada 2 Oktober 2009 ini semestinya menjadi momen tepat untuk melanjutkan tradisi dengan sentuhan kreatif.

Batik khas Indonesia pada dasarnya merupakan karya seni tradisional. Menurut Ensiklopedi Indonesia (1980), batik adalah lukisan di atas kain yang diciptakan dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam). Jika hendak membatik tangan, kain yang akan dilukisi itu dipasang pada rak. Cara membatiknya adalah dengan memakai canting (alat pencedok lilin yang sudah dipanaskan dengan api). Kain yang telah dilapisi lilin itu dicelup ke dalam zat pewarna sesuai yang dikehendaki. Lalu lilin dihilangkan dengan penggodokan atau dengan zat pelarut benzena. Proses itu diulangi untuk setiap warna yang akan digunakan.

Batik merupakan seni kerajinan khas Indonesia. Cara pemberian warna dalam proses pembatikan ini sudah dikenal sejak abad ke-8. Kerajinan batik telah lama berkembang di Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Tegal, Ponorogo, Banyumas, dan juga Madura. Karena itu tidak fair jika negara tetangga kita mengklaimnya sebagai karya budaya asli mereka.

Sebagai seni lukis tradisional, batik Indonesia mempunyai rujukan-rujukan, pakem-pakem, material-material, dan visualisasi-visualisasi tertentu. Motif-motif batik Surakarta dan Yogyakarta misalnya, sudah mempunyai pola-pola khas yang khusus. Apalagi terkait dengan kebudayaan Jawa yang penuh simbol-simbol sarat makna.

Dinamika Batik

Sebagai karya seni dan bahan fesyen, batik berkembang mengikuti kemajuan jaman. Dari segi teknik pembuatan, disamping ada batik tangan ada pula batik cap. Dari segi motif gambar, juga berkembang terus. Menurut catatan kurator Inda C Noerhadi, perkembangan motif-motif batik di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Cina, Hindu, dan Islam. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pesan-pesan nasionalisme juga diungkapkan lewat batik. Dulu, Presiden Soekarno menjadikan batik sebagai busana nasional (kain panjang batik dengan kebaya pendek dari bahan renda, viole kembang, atau bahan tipis lainnya). Presiden Soekarno juga mendorong inovasi-inovasi batik lainnya.

Menurut Noerhadi, di Indonesia telah muncul banyak inovator seni batik. Bintang Sudibyo adalah seorang parancang kain batik yang berhasil menciptakan variasi baru pola-pola motif batik Vorstenlanden (kerajaan-kerajaan Jawa). Idenya terilhami dari relief candi-candi Hindu di Jawa. Sementara itu Harjono Gotik Swan (KRT Harjonagoro) memadukan gaya Vorstenlanden dengan gaya pesisir utara. Adapun Iwan Tirta terus mengembangkan variasi-variasi batik gaya kraton Cirebon.

Usaha untuk melanjutkan tradisi perbatikan di Indonesia sebenarnya cukup gencar dilakukan. Pada 1974 misalnya, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mensosialisasikan kemaja batik lengan panjang sebagai busana resmi. Pakaian resmi PNS yang dipakai pada era Orde Baru (baju Korpri) juga bernuansa batik. Sekarang, setelah batik dicoba diambil alih oleh bangsa lain, semestinya kita semakin gencar untuk mempopulerkannya di negeri sendiri.

Kreatifitas dan Peluang

Untuk bisa bertahan dan bahkan terus nge-trend di masa sekarang, tradisi seni batik bukan hanya perlu dilanjutkan namun dikembangkan secara kreatif. Hal itu penting sebab sekarang batik harus bersaing ketat dengan berbagai macam produk seni fesyen yang sangat kreatif.

Syukurlah sekarang sudah banyak seniman batik yang kreatif. Dari Yogya muncul KRT Daud Wiryo Hadinegoro, inovator batik yang tak jemu melakukan riset untuk pembaruan batik. Ia pernah memakai bahan-bahan warna dari alam. Daud juga membuat batik dengan motif (gambar) yang beraneka ragam, misalnya motif kulit macan, dan gambar-gambar kontemporer bertema narkoba, HIV-AIDS, Perang Irak, dugem, tsunami Aceh, bom Bali, dan wabah flu burung. Dari Yogya ada seniman lukis Irawan Hadi yang kini juga tertarik mengembangkan karya-karya batik inovatif dengan warna-warna alam yang ternyata terlihat lebih klasik dan unik ketimbang warna-warna dari bahan kimia.

Sekarang, tanpa sentuhan kreatif, batik tentunya sulit memenangi persaingan trend fesyen global. Majalah mode internasional seperti Elle dan Vogue yang diterbitkan dalam berbagai bahasa terus-menerus mempromosikan gaya busana internasional. Sementara anak-anak muda di seluruh dunia senantiasa tergiring mengikuti mode dunia yang paling mutakhir. Menurut catatan Naisbitt (1990), Cina yang semula sangat tertutup pun sudah dilanda trend mode dunia. Kini banyak wanita muda mengenakan spagheti-strap sundress, celana panjang, stoking, jeans, dan rok mini nan seksi.

Namun berbarengan dengan globalisasi mode, seluruh dunia sekarang meminati keunikan-keunikan fesyen. Buktinya sekarang butik dan distro produk fesyen ”indi” merebak bak jamur di musim penghujan. Masyarakat tidak lagi suka dengan produk-produk yang umum di pasaran. Orang ingin menjadi unik dengan pakaian unik yang tidak mudah ditemui di pasaran. Ini merupakan peluang besar bagi seni fasyen batik, apalagi batik tulis dengan motif-motif unik yang jelas tidak bisa ditemukan duplikatnya. Kecuali itu, Naisbitt (1990) melihat adanya trend kebangkitan seni (renaisans seni) global pada era 2000-an. Karya-karya seni unik kini sangat laku dan diminati. Ketika seni batik dikembangkan dengan sentuhan kreatif, bukan hanya akan lestari tetapi bisa menjadi trend dunia.

(lihat juga www.opinilivylaurens.wordpress.com)

7 OKTOBER 2009 – HARI REDUKSI RESIKO BENCANA SEDUNIA: PERLU LEBIH SIAP HADAPI GEMPA

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (7 Oktober 2009)

Setiap Rabu minggu kedua bulan Oktober, yang kali ini jatuh pada tanggal 7 Oktober 2009, diperingati sebagai Hari Reduksi Resiko Bencana Sedunia. Peringatan itu ditetapkan dengan Resolusi PBB nomor 44/236 (22 Desember 1989) yang kemudian ditegaskan ulang dengan Resolusi PBB nomor 56/195 (21 Desember 2001). Peringatan itu sangat penting bagi kita, yang meskipun sudah berulang kali ditimpa bencana, belum juga siaga sampai malapetaka demi malapetaka benar-benar menghampiri kita.

Tepat seminggu sebelum hari peringatan itu, Rabu sore, 30 September 2009, terjadilah gempa dahsyat di Padang yang merenggut nyawa ratusan jiwa. Sehari sesudahnya, bencana serupa memporakporakdakan Jambi. Presiden SBY menilai bencana Padang itu lebih parah dibanding bencana gempa Yogya pada 2006 silam (KR, 2 Oktober 2009). Sebenarnya, Padang yang mempesona itu memang rawan bencana sejak dulu.

Menurut catatan Yurnaldi (2005), Padang rawan banjir dan rawan tanah longsor. Menurut data dari JICA (Japan International Cooperation Agency) tahun 1983, selama periode 1972-1992, setiap bencana banjir yang terjadi menelan korban harta benda lebih dari Rp 6,5 miliar. Kawasan Sumatera Barat merupakan daerah perbukitan (Pegunungan Bukit Barisan) yang terdiri dari material vulkanik muda (kuarter) sehingga sangat rawan terhadap bencana tanah longsor. Sejak 1990 sampai 2005 korban jiwa akibat bencana tanah longsor di wilayah itu sudah mencapai 160 orang.

Kecuali itu, Padang bersama kawasan-kawasan lain di sepanjang pesisir selatan Pulau Sumatera dan pesisir selatan Pulau Jawa jelas merupakan daerah-daerah yang rawan bencana gempa dan tsunami.  Pertama, kawasan itu termasuk dalam The Pacific Ring of Fire, deretan (rangkaian) gunung berapi di bawah tanah yang aktif. Lintasan itu melewati Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Sulawesi, dan Papua Timur. Kedua, kawasan tersebut merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonis (lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik). Gempa bumi terjadi karena pergesekan lempeng-lempeng tersebut. Daerah pertemuan antar lempeng ini disebut sebagai zona subduksi dan zona patahan aktif.

Bencana Padang tempo hari memang diluar dugaan. Gempa berkekuatan 7,6 SR yang berdampak kuat dalam radius 500 km itu sontak mencabut nyawa jiwa-jiwa yang tidak siaga. Bangunan-bangunan yang selama ini dianggap kokoh pun roboh dan menimbun orang-orang tanpa ampun. Tetapi, pengalaman atas bencana-bencana yang telah terjadi berulang kali di masa silam seharusnya membuat kita setidaknya lebih siaga. Kesiapan secara teknis paling tidak akan mengurangi resiko bencana yang terkadang memang tak terhindarkan seperti itu.

Rentetan dan eskalasi bencana-bencana secara global menuntut umat manusia semakin siap supaya dapat mengurangi resiko-resiko bencana. Pada 1897-1946 terjadi hanya 3 kali gempa dahsyat di atas 6 SR setiap 10 tahun sekali. Pada 1947-1956 terjadi 7 kali gempa dahsyat di atas 6 SR. Pada 1957-1966 terjadi 17 kali gempa dahsyat di atas 6 SR. Dan, terus melonjak. Pada 1967-1976 terjadi 180 kali gempa dahsyat di atas 6 SR. Dalam majalah TIME (30 Agustus 1976) dilaporkan bahwa para ahli merasa terganggu dan bingung melihat bertambahnya jumlah dan kadar kekuatan gempa bumi ini.

Namun, sejarah mencatat bagaimana umat manusia tidak siap saat gempa-gempa dahysat datang menghancurkan kehidupan. Pada 17 Agustus 1999, gempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang Turki. Gempa yang datang pada jam 3 pagi itu menewaskan 16.000 orang. Pada 1997, Cicilia (Italia) dilanda gempa selama 3 minggu berturut-turut. Gempa pertama sampai kelima terasa sangat besar. Pada 17 Oktober 1989, kota San Fransisko (California) diluluh-lantakkan oleh gempa bumi yang sangat besar. Jalan-jalan layang patah dan roboh. Pada 17 Januari 1994, gempa bumi menggoyang Los Angeles selama 30 detik pada jam 4 pagi. Gempa utama yang diikuti tak kurang dari 30 gempa susulan itu merobohkan gedung-gedung bertingkat, mematahkan jalan-jalan layang.

Para ahli gempa Jepang pernah salah dalam memprediksi terjadinya gempa. Karena pernah terjadi gempa hebat di Tokyo pada tahun 1923, mereka memprediksi bahwa gempa serupa akan muncul di tempat yang pada 70 tahun kemudian (1993). Mereka melakukan riset mendalam dengan biaya sangat tinggi sejak tahun 1965. Ternyata, gempa yang diharapkan tidak terjadi. Gempa luar biasa yang paling merusak (katastrofik) justru terjadi di Kobe pada tahun 1995. Pengalaman salah prediksi dan ketidaksiapan menghadapi bencana Kobe itu mendorong dunia untuk sekali lagi menegaskan pentingnya Hari Peringatan Reduksi Resiko Bencana Sedunia tersebut.

Adapun kesiapan itu paling tidak harus mencakup tiga ranah. Pertama, kesiaagaan teknis seperti pembangunan rumah dan bangunan tahan gempa, kesiagaan dan keterlatihan tim tanggap bencana, keterlatihan motorik menghadapi gempa (misalnya bagaimana menyelamatkan diri di bawah meja, dan seterusnya), dan keterlatihan masyarakat untuk bisa secara korporat bekerjasama menghadapi dan mengatasi bencana.

Kedua, kesiapan sosiologis. Bencana-bencana itu semestinya membangkitkan kembali semangat dan praktek gotong-royong yang semakin terkikis dalam kehidupan modern yang individualistis. Kita mempunyai kebiasaan buruk, yaitu senang menonton kalau ada orang celaka – perhatikan saja gejala kerumunan saat ada kecelakaan. Di sisi lain, ada tipe-tipe orang bergaya selebritis yang suka memanfaatkan bencana untuk pamer kedermawanan. Inilah waktunya Indonesia benar-benar mengamalkan Pancasila: berperikemanusiaan, menggalang persatuan, bermusyawarah, dan mengupayakan keadilan bersama tanpa memandang perbedaan suku, ras, dan agama.

Ketiga, kesiapan mental-kerohanian. Kaum beragama apa pun sepakat bahwa senantiasa ada hikmah, ada maksud Tuhan di balik semua malapetaka. Bencana adalah bentuk teguran supaya kita bertobat. Tanpa kedewasaan iman, siapa pun yang bisa terguncang saat malapetaka terjadi. Sementara itu, fanatisme agamawi yang sempit tidak lagi relevan saat kita sebagai umat Tuhan di muka bumi harus bersama-sama menghadapi teror keganasan alam ini.

16 OKTOBER – HARI PANGAN SEDUNIA: KEADILAN DAN SOLIDARITAS PANGAN

Oeh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (16 Oktober 2009)

Bencana demi bencana mengajarkan pada kita untuk memperhatikan masalah pangan. Bagaimana sulitnya mencari makan. Betapa berharganya sesuap nasi. Sementara berita-berita bencana dan kelaparan di layar kaca bersanding dengan tayangan-tayangan wisata kuliner. Persoalan pangan sebenarnya berakar pada masalah keadilan dan solidaritas sosial, dua hal yang perlu direnungkan pada peringatan Hari Pangan Sedunia ini (16 Oktober 2009).

Memang, bumi semakin tidak bersahabat. Tetapi, sejauh ini sebenarnya umat manusia di dunia tidak kekurangan pangan. Rahman dan Shukor sebagaimana dikutip Khudori (2005) mengatakan, ”Dewasa ini, 826 juta orang menderita kekurangan pangan yang sungguh kronis dan serius, kendati dunia sebenarnya mampu memberi makan 12 milyar orang – dua kali lipat dari jumlah penduduk sekarang – tanpa masalah sedikit pun.” Kenyataannya, seperti dinyatakan dalam sebuah konferensi menjelang Sidang Majelis Umum ke-60 PBB pada 21 September 2004 silam, penduduk dunia yang tersiksa kepalaran berjumlah tak kurang dari semilyar.

Demikian juga Indonesia, ironis karena kelaparan menjadi masalah besar padahal negeri ini sangat subur dan kaya akan sumber daya alam dan plasma nutfah. Dulu, pada jaman Belanda, Indonesia pernah menjadi produsen dan eksportir gula. Sekarang, Tingkat Ketergantungan Impor kita untuk aneka bahan pangan terus-menerus meningkat. Memang kita pernah berswasembada beras pada 1984. Tetapi, tak lama kemudian kita terjerumus menjadi negara pengimpor beras terbesar di dunia. Semantara negara lain yang tak seluas dan tak sesubur kita justru menjadi penghasil bahan pangan yang hebat.

Keadilan Pangan

Masalah pangan di Indonesia, seperti halnya di dunia, terkait dengan masalah ketidakadilan. WHO (World Health Organization) pada 2001 memberi pernyataan: ”Kelaparan adalah persoalan distribusi yang timpang (maldistribution) dan masalah ketidakadilan, bukan masalah kekurangan pangan. Makanya, meskipun ada kelimpahan, kelaparan tetap saja menghantui.” Ketidakadilan ini terkait dengan sistem yang tidak fair dan kekurangmampuan negara untuk mengurus masalah pangan tersebut.

Sistem yang tidak adil itu terjadi di mana-mana. Khudori (2005) menegaskan bahwa mata rantai perdagangan pangan di negara maju maupun di negara berkembang sudah tidak bisa dikontrol oleh negara tetapi oleh corporate. Sebagai contoh, ada 10 perusahaan yang mengontrol 32 persen perdagangan bibit dan menguasai 100 persen pasar bibit transgenik. Dan hanya ada 5 perusahaan yang mengendalikan perdagangan biji-bijian. Ketidakadilan terjadi karena para pemodal itu mengedepankan kepentingan mereka sendiri ketimbang kepentingan orang banyak.

Masalah pangan akibat sistem ekonomi yang tidak adil dan tidak memihak kaum papa perlu ditangani. Dalam hal inilah negara (pemerintah) dituntut untuk lebih pro-aktif. UUD 1945 jelas mewajibkan Negara untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. HAM pangan yang harus diperhatikan oleh Negara juga ditegaskan dalam UU No 7 Tahun 1996 (”pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional”).

Menajemen pangan yang dikelola Pemerintah, istimewa dalam rangka menangani krisis, menuntut kecermatan dan profesionalitas supaya adil dan merata. Kebijakan beras untuk masyarakat miskin (raskin) yang lalu misalnya, mempunyai banyak kekurangan seperti: salah sasaran, mutu berasnya jelek, diterima rakyat tapi kemudian dijual lagi ke pasar, jumlahnya berkurang, tidak sesuai harga, ada biaya tambahan, salah pendataan, menunggak setoran bayaran (Khudori, 2005). Kecuali itu, kebijakan tersebut kembali memaksakan beras yang sebenarnya tidak bukan satu-satunya makanan pokok bagi seluruh penduduk kita. Orang Yogya saja mengenal selain beras, misalnya di Gunung Kidul dikenal tiwul dan gaplek yang tak kalah bermutu gizinya.

Solidaritas Pangan

Setiap masalah Hak Asasi Manusia (HAM) senantiasa terkait dengan kasih sayang antar manusia. Hak untuk beribadah misalnya, akan dilanggar ketika umat manusia tidak saling mengasihi meskipun sangat taat beragama. Masalah kelaparan juga merupakan masalah kemanusiaan, bukan soal tidak adanya bahan pangan. Dan, dunia ini semakin ironis saja. Aneh, di satu sisi ada orang tak bisa makan barang sesuap nasi pun, sementara banyak orang menghabiskan ratusan ribu rupiah hanya untuk menyantap secuil ”appetizer mewah di restorah wah. Khudori (2005) menyindir dengan menyodorkan data tentang makin banyaknya kasus obesitas (kegemukan). Menurut WHO, sekarang ada 1,7 milyar orang (1 dari 5 penduduk dunia) mengalami kegemukan. Di Asia saja, akan ada 190 juta orang gemuk pada 2030 nanti. Sementara sangat banyak orang mengalami ”kegemukan” karena kepalaran, alias menderita busung lapar.

Seandainya semua orang kaya yang berlimpah pangan memiliki hati untuk berbagi dan benar-benar melakukannya, takkan ada orang lapar di seluruh dunia. Bencana-bencana yang kita alami kiranya menyentuh nurani dan menggerakkan langkah untuk berbagi di tengah tren menjadikan masalah pangan dan kelaparan sebagai sebuah komoditas. Sementara pertolongan pangan dari negara-negara maju terbukti seringkali merupakan bentuk penjajahan baru berkedok bantuan. Solidaritas sejati haruslah tulus.

Akhirnya, solidaritas pangan tak cukup hanya dibicarakan tetapi dilakukan. Sebuah deklarasi yang dilontarkan dalam konferensi 55 negara menjelang Sidang Majelis Umum ke-60 PBB pada 20 September 2004 menyatakan: ”Skandal terbesar global bukanlah kelaparan, bahkan kelaparan tetap akan ada walau kita memiliki cara untuk menghilangkannya. Skandal terbesar global adalah mendiamkan isu kelaparan dan tidak berbuat apa-apa. Saatnya untuk megambil aksi. Kepalaran tidak bisa menanti!”

28 OKTOBER – SUMPAH PEMUDA: MEMBARUI ENERGI SUMPAH PEMUDA

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (29 Oktober 2008)

Indonesia masa kini membutuhkan energi batiniah yang bisa memberi daya dorong ekstra dalam berjuang untuk mengatasi krisis dan berjuang untuk membebaskan diri dari segala kerterpurukan. Energi itu adalah spirit kebangsaan atau nasionalisme. Energi inilah yang dulu telah memampukan bangsa ini meraih kemerdekaannya. Meski hanya bermodal bambu runcing, bangsa ini sanggup melakukan perkara besar karena memiliki semangat kebangsaan yang begitu membara.

Spirit kebangsaan Indonesia meletup sejak tahun 1908 (Boedi Oetomo) dan kemudian mengkristal dalam momen Sumpah Pemuda tahun 1928. Nasionalisme itu tumbuh kuat di kalangan pemuda. Meskipun kelahirannya didorong oleh dr Wahidin Soedirohoesodo, para pendiri Boedi Oetomo kebanyakan masih muda. Pada tahun 1908, para pendiri Boedi Oetomo itu masih sangat belia: R Soetomo (20 tahun), Mohammad Soelaiman (22 tahun), Gondo Soewarno (21 tahun), Goenawan Mangoenkoesoemo (20 tahun), R Angka Prodjosoedirdjo (21 tahun), Soeradji Tirtonegoro (21 tahun), Mohammad Saleh (20 tahun), M Soewarno (22 tahun), RM Goembrek (23 tahun). Demikian juga ikrar ”satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa” pada tahun 1928 merupakan ikrarnya pemuda-pemudi Indonesia. Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di gedung Indonesisch Clubgebouw Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1928 itu dibackup penuh oleh berbagai organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Soematra, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia.

Sejarah Indonesia mencatat kontribusi besar orang-orang mudanya. Pada tahun 1945, pemimpin-pemimpin yang maju di garis depan adalah orang-orang muda: Soekarno (44 tahun), Hatta (43 tahun), Mr Soepomo (42 tahun), Mr Muh Yamin (42 tahun), Tan Malaka (48 tahun), Mr AA Maramis (48 tahun), Mr Ahmad Soebardjo Djojodisurjo (49 tahun), Muh Natsir (37 tahun), Sutan Sahrir (36 tahun), Mr Muh Roem (37 tahun), KH Wahid Hasim (31 tahun), dan Sri Sultan HB IX (33 tahun).

Dekadensi Nasionalisme

Energi Sumpah Pemuda yang adalah semangat kebangsaan orang muda Indonesia, kini mulai merosot daya ledaknya. Setelah masa 80 tahun berlalu, gaungnya sudah tak sekuat dulu meski juga belum dilupakan sama sekali. Metro TV baru-baru ini melakukan survei tentang apa-apa yang dianggap membanggakan oleh masyarakat. Hasil jejak pendapat itu, seperti ditayangkan pada tanggal 22 September 2008 silam, menyatakan 10 hal yang dinilai paling membanggakan Indonesia, dengan urutan sebagai berikut: (1) keberhasilan para atlet bulutangkis Indonesia meraih emas di Olimpiade sejak tahun 1992 sampai sekarang, (2) Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, (3) kemenangan-kemenangan para pelajar Indonesia dalam Olimpiade Sains, (4) keindahan wisata alam Indonesia, (5) kekayaan sumber daya alam Indonesia, (6) prestasi Yohanes Chris John sebagai juara tinju dunia, (7) swasembada beras Indonesia pada tahun 1984 yang diapresiasi oleh PBB, (8) Reformasi Indonesia 1998, (9) keberhasilan mengatasi masalah konflik di daerah seperti masalah GAM di Aceh, (10) Sumpah Pemuda 1928. Meski menduduki urutan terakhir, setidaknya orang Indonesia masih membanggakannya.

Mengapa nasionalisme orang muda Indonesia semakin merosot. Pertama, spirit global dengan cita satu bumi dan satu umat lengkap dengan gaya hidup populernya telah melindas spirit kebanggaan identitas bangsa-bangsa. Cina yang sangat ketat dalam menjaga tradisi nasionalismenya pun tak kuasa menahan perkembangan gaya hidup global kaum muda mereka. Pada bulan Mei 1988, untuk pertama kali Pemerintah RRC mensponsori kompetisi break dance yang diikuti 300 orang muda. Menurut Li Delun (pimpinan China Central Philharmonic Orchestra), Cina adalah medan perang terakhir bagi masuknya musik Barat. Demikian pula di Jepang, kaum muda mereka sudah keranjingan gaya hidup Barat sejak dekade 1990-an.

Kedua, pendidikan anak muda kini tidak lagi menitikberatkan pada penanaman nasionalisme, hanya berfokus pada pengembangan kecerdasan. Pelajaran sejarah dan Pancasila semakin terabaikan. Bersamaan dengan itu, bangsa ini telah mengalami trauma dalam hal pendidikan nasionalisme karena pendidikan semacam itu telah disalahgunakan pada era Orde Baru silam. Dulu, pelajaran-pelajaran semacan itu begitu lengkap, sampai-sampai ada Penataran P-4 yang sangat intensif.

Ketiga, persaingan bebas dalam segala bidang menumbuhkan mentalitas individualistik, egoistik, dan hedonistik di kalangan orang muda. Bersamaan dengan itu, negara-negara maju nan kaya dengan kekuatan sistemik globalnya telah melancarkan imperialisme ekonomi baru yang mencengkeram bangsa-bangsa terbelakang, termasuk Indonesia. Orang-orang muda Indonesia cenderung menjadi oportunis. Kalau mereka pandai, mereka hanya berjuang untuk meraih karir dan kesusesannya sendiri, tanpa memikirkan nasib bangsa yang terpuruk dan terjajah ini.

Pendidikan untuk Nasionalisme

Sejarah mencatat bahwa tumbuhnya nasionalisme orang muda Indonesia dipicu oleh pendidikan yang mencerahkan. Pada tahun 1901, Ratu Wilhelmina (1890-1948) mengeluarkan kebijakan Politik Etis (politik balas budi) yang akhirnya menjadi bumerang bagi Belanda sendiri. Itu adalah kebijakan untuk memperbaiki kesejahteraan bangsa Indonesia dalam tiga bidang, yaitu pendidikan, irigasi, dan emigrasi. Pada tahun 1907 didirikan Sekolah Desa (volkschoolen). Untuk pendidikan dasar, didirikan Hollandsch Inlandsch School (HIS) dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Untuk kelanjutannya, didirikan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan  Algemeene Middlebare Schoolen (AMS). Disamping itu, juga didirikan sekolah yang lebih singkat, yaitu Hoogere Burgerschool (HBS). Antara tahun 1920 sampai 1927, Belanda juga mendirikan Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool) di Bandung, Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshoogeschool) di Batavia, dan Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool). Meningkatnya taraf pendidikan membuat orang muda Indonesia semakin menyadari ketidakadilan pemerintah kolonial Belanda. Pendidikan juga memberi pencerahan tentang cita nasionalisme. Selanjutnya, dari kalangan muda terpelajarlah gerakan nasionalisme bangkit.

Sama seperti pada masa silam, energi nasionalisme orang muda masa kini harus dibarui melalui proses pendidikan. Kegagalan penanaman nasionalisme selama ini terjadi karena pendidikan kita cenderung merupakan pembodohan. Pelajaran-pelajaran yang berkenaan dengan kebangsaan hanya bersifat indoktrinasi dan  pemberian informasi yang harus dihafal mati tanpa pengkajian kritis. Nasionalisme orang muda akan bangkit ketika pendidikan masa kini menyadarkan mereka akan ”imperialisme modern” yang menyebabkan kemiskinan, kebobrokan moral, dan kehancuran Indonesia seraya menumbuhkan kembali obsesi untuk menegakkan harkat, martabat, dan kapasitas Indonesia di kancah persaingan global!

28 OKTOBER 2007 – SUMPAH PEMUDA, RIWAYATMU KINI

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (27 Oktober 2007)

Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 di gedung Indonesisch Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta menunjukkan kuatnya visi dan komitmen kebangsaan generasi muda Indonesia kala itu. Deklarasi yang menyatakan lahirnya bangsa dan kebangsaan Indonesia ini diucapkan bersama dalam sidang pleno ketiga Konggres Pemuda Indonesia II. Kegiatan akbar ini diselenggarakan bersama oleh beberapa organisasi pemuda Indonesia, yaitu Jong Java, Jong Soematra, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan Perhimpulan Pelajar-pelajar Indonesia.

Sekarang, 29 tahun kemudian, masihkah generasi muda Indonesia memiliki semangat kebangsaan seperti itu? Mengapa semangat kebangsaan di kalangan orang-orang muda sekarang cenderung memudar?

Nasionalisme, Dulu dan Kini

Tumbuhnya nasionalisme di antara bangsa-bangsa Asia-Afrika pada awal abad 20 terpicu oleh kesadaran akan ketertindasan sebagai akibat imperialisme Barat yang sudah berjalan ratusan tahun. Revolusi industri (1750-1850) mendorong negara-negara Barat untuk melancarkan politik imperialisme dengan semakin gencar. Obsesi untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan akhirnya tak tertahankan lagi.

Bangkitnya para pemimpin juga menambah eskalasi perjuangan nasional. Pada tanggal 12 Juni 1898, Ermilio Aquinaldo yang mendirikan Liga Pembebasan Filipina mencoba memproklamirkan negara Republik  Filipina merdeka. Di daratan Cina, Dr Sun Yat Sen menebar perjuangan yang berdasar pada tiga asas kerakyatan (nasionalisme, demokrasi, sosialisme) yang disebut San Min Cu I. Di India, muncul tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Mahatma Gandhi, J Nehru, BG Tilak, Banarjee, Moh Ali Jinnah, dan Iskandar Mirza. Sedangkan di Indonesia, bangkitnya para pemimpin seperti dr Wahidin Sudirohusodo menginspirasi para aktifis lainnya untuk bergerak maju dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Disamping karena menyadari kejamnya imperialisme, spirit kebangsaan pemuda Indonesia tumbuh karena impartasi (penanaman) visi dari para pemimpin yang lebih senior. Hal itu terlihat dari pertemuan antara dr Wahidin Sudirohusodo dengan pemuda Sutomo (pelajar STOVIA, School tot Opleiding van Inlandse Artsen) di Jakarta pada akhir tahun 1907. Pertemuan itu menggerakkan hati Sutomo dan para pelajar STOVIA lainnya untuk mendirikan Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, yang sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Setahun kemudian, Budi Utomo telah mempunyai 40 cabang dan 10.000 anggota.

Setelah Budi Utomo, pergerakan kebangsaan di kalangan kaum muda merebak dengan cepat. Pada tahun 1915 berdirilah Tri Koro Darmo sebagai perkumpulan kebangsaan para pelajar sekolah menengah di seluruh Jawa dan Madura. Nama itu berarti tiga tujuan mulia. Pertama, mempererat kesatuan di antara pelajar-pelajar bumiputera. Kedua, menambah pengetahuan umum bagi para pelajar. Ketiga, mempertajam peranan pemuda bagi perkembangan bahasa dan budaya.

Bola salju gerakan kebangsaan pemuda Indonesia bergulir dengan cepatnya. Pada tahun 1918, berdirilah Jong Java. Dalam waktu singkat, gerakan-gerakan serupa menjamur di seantero negeri. Muncullah Jong Sumatranen Bond, Pasundan, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, Timorees Verbond, dan lain-lain.

Dapat disimpulkan bahwa tumbuhnya nasionalisme orang muda disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, adanya kesadaran akan ketertindasan (imperialisme Barat). Kesadaran semacam itu sangat mudah memicu gejolak idealisme darah muda. Kedua, adanya pengaruh dan impartasi visi dari para pemimpin yang lebih senior. Ketiga, adanya pendidikan yang memberi pencerahan, menambah pengetahuan yang menumbuhkan kesadaran eksistensial untuk mengaktualisasikan martabat bangsa sendiri.

Faktor kesadaran akan ketertindasan sangat penting. Hal itu terlihat jelas ketika para mahasiswa bergerak untuk menggelindingkan bola panas reformasi pada tahun 1998 silam. Kesadaran akan kesewenang-wenangan rezim Orde Baru benar-benar telah membuat para mahasiswa peduli akan bangsanya. Mereka melancarkan gerakan demi keselamatan republik ini. Para mahasiswa dari berbagai kampus bersatu, turun ke jalan, dan melakukan demonstrasi tanpa mempedulikan keselamatan jiwa mereka sendiri.

Yang menarik, di tengah pergolakan people power saat itu, para mahasiswa sempat menyatakan ikrar yang mereka sebut sebagai ”Sumpah Mahasiswa”. Isinya merupakan modifikasi dari Sumpah Pemuda 1928: ”Kami, mahasiswa Indonesia, mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Kami, mahasiswa Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa yang cinta keadilan. Kami, mahasiswa Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa tanpa kebohongan.”

Ternyata, riwayat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 masih terus berlanjut. Anthony D Smith (2003) mengatakan bahwa nasionalisme tidak akan pernah hilang dalam kehidupan umat manusia. Nasionalisme itu seperti sebuah agama, yang menurut Emile Durkheim, ditakdirkan untuk hidup lebih lama dari semua sistem simbol yang ada dalam budaya manusia. Nasionalisme akan meledak ketika martabat bangsa diinjak-injak, baik oleh bangsa lain maupun oleh oknum-oknum penguasa di negeri sendiri.

Pudar

Setelah Sumpah Pemuda 1928 dan Sumpah Mahasiswa 1998 lama berlalu, rasa-rasanya semangat nasionalisme orang muda mulai memudar. Benarkah semangat anak muda itu hangat-hangat tahi ayam? Ataukah nasionalisme sudah tidak relevan bagi gaya hidup global masa kini, sampai-sampai Presiden SBY turun tangan untuk mensuport peluncuran video klip lagu pop bertema kebangsaan karya grup band Samson?

Gaya hidup hedonis-materialistik membuat orang-orang muda menjadi narsis, sehingga tidak peduli dengan penderitaan yang terjadi di sekitarnya. Padahal, bangsa ini sedang benar-benar terpuruk, tertindas, dan terpinggirkan. Kapitalisme global telah menindas bangsa ini sehingga menjadi miskin, bodoh, dan terbelakang.

Krisis kepemimpinan dan ketiadaan tokoh-tokoh teladan menyebabkan generasi muda masa kini tidak terinspirasi. Para pemimpin sekarang telah meninggalkan nilai substansial politik, yaitu kecerdasan (shrewdness) dalam mengambil kebijakan, dan telah dikuasai oleh rupa-rupa kelicikan (slyness) sehingga tidak bisa menjadi teladan (Suhartono, 2006, hal 23). Mencari sosok negarawan yang benar-benar cinta Indonesia sangat sulit. Kaum muda tidak mempunyai mentor-mentor yang visioner.

Tambahan lagi, pendidikan Indonesia tidak didisain untuk menumbuhkan semangat kebangsaan. Orientasi pada kapitalisme pendidikan mendorong para pengelola dan pendidik memilih menjadi pragmatis. Pengajaran di sekolah dan kampus tidak mengarahkan generasi muda untuk membangun eksistensi pribadinya sebagai anak-anak bangsa. Konsep hidup mereka dangkal. Visi hidup mereka sebatas meraih kesuksesan materi yang sifatnya individualistis.

28 OKTOBER – SEMANGAT SUMPAH PEMUDA: PEMUDA, MUSIK, DAN NASIONALISME

Oleh Livy Laurens

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (28 Oktober 2009)

Semangat Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan bagaimana musik memberi energi bagi gerakan kebangsaan di kalangan pemuda. Sekarang, musik mendominasi kehidupan kaum muda lebih sebagai hobi dan hiburan. Mungkinkah nasionalisme anak muda dibangkitkan kembali lewat musik?

Pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 bukan hanya dicanangkan sebuah pernyataan nasional yang dikenal dengan Sumpah Pemuda, namun dikumandangkan pula lagu ”Indonesia Raya” lewat gesekan biola Wage Rudolf Supratman. Lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia saat itu menjadi salah satu pembakar semangat nasionalisme. Hal itu tercium oleh pihak Penjajah Hindia Belanda sehingga dilarang dinyanyikan di pertemuan-pertemuan umum.

Betapa bermaknanya lagu itu sehingga MH Tamrin yang waktu itu menjabat sebagai anggota Volksraad menentang keras pelarangan tersebut (Soedarsono, 2002). Berkat protes itu, pemerintah kolonial akhirnya mengijinkan lagu ”Indonesia Raya” dinyanyikan di tempat-tempat tertutup dengan syarat tidak boleh dinyanyikan dengan lirik yang berbunyi ”Indonesia Raya, merdeka, merdeka”. Jadi saat itu liriknya berbunyi ”Indones, Indones, mulia, mulia”. Musik telah memberi energi luar biasa bagi gerakan kebangsaan Indonesia.

Pada jaman itu, tentu saja musik tidak hanya menjadi alat untuk membangkitkan nasionalisme. Namun karena pada era itu nasionalisme merupakan ”fokus kebudayaan” generasi muda maka musik yang berkembang pun bernafaskan semangat kebangsaan yang menggelora.

Situasi sekarang berbeda. Pada era Sumpah Pemuda 1928 dulu berkembanglah suatu semangat untuk mempersatukan beragam etnik di nusantara yang terepresentasi dalam berbagai kelompok kegerakan (Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, dan seterusnya) menjadi satu identitas tunggal yaitu Indonesia. Sekarang semangat yang tumbuh adalah pluralisme dan multikulturalisme yang bebasis budaya global. Tidak ada lagi identitas tunggal. Kehidupan manusia sekarang bernuansa ”hibrida”. Dalam hal berbahasa saja misalnya, anak-anak SD sekarang belajar banyak bahasa, ya bahasa Indonesia, ya bahasa jawa, ya bahasa Inggris, ya bahasa Mandarin. Jadi tidak ada lagi fanatisme terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa tunggal. Malahan di dunia maya bahasa Inggris merupakan bahasa pemersatu.

Kehidupan masa kini merupakan sebuah kehidupan global. Menurut Anthony D. Smith (2003), bangkitnya budaya global kosmopolitan akan semakin menelan dan mengikis budaya dan identitas nasional. Pada jaman komunikasi massa sekarang ini batas-batas negara sudah sangat kabur. Sekarang ini juga merupakan jaman migrasi massa. Sehingga, kita tidak lagi mempermasalahkan identitas nasional kita dari mana.

Fokus kebudayaan masyarakat sekarang tidak lagi pada perjuangan untuk menegakkan bangsa dan negara. Masyarakat masa kini lebih banyak diliputi budaya konsumerisme dan materialisme. Gaya hidup idealis tidak lagi menjadi sebuah nilai-nilai yang dibanggakan. Orang hanya berpikir praktis untuk mempertahankan hidup dengan segenap usaha untuk peningkatan pencapaian.

Kehidupan seperti di atas mempengaruhi perkembangan musik di kalangan anak muda. Musik sekarang, termasuk juga seni-seni yang lain, hanyalah sebagai hobi dan hiburan. Orang mendengarkan musik atau menonton pertunjukan musik untuk mendapatkan kenikmatan. Nilai seninya, apalagi filosofinya, tidak dipikirkan. Balutan budaya populer yang penuh gemerlap semakin menjauhkan musik dari tujuan-tujuan idealistik.

Pemuda pada tahun 1928-an dan pemuda pada hari ini memang sama-sama mengapresiasi musik. Bedanya, musik waktu itu menjadi salah satu alat pembangkit dan penyalur spirit kebangsaan. Sekarang, musik tinggallah sebuah alat hiburan dan sarana pencapai kenikmatan sesaat yang profan dan hedonis. Namun, peran musik dalam kehidupan pemuda sekarang sangat besar, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Tiada hari tanpa musik.

Kuatnya dominasi musik populer dalam kehidupan tak pelak memunculkan singgungan dengan kehidupan yang lebih serius, misalnya politik. Namun, musik tetap saja berfungsi sebagai entertainment. Hal itu terlihat dari tampilnya para artis dalam kampanye-kampanye pemilu beberapa waktu silam. Kehadiran musik hiburan terbukti mampu mendongkrak penjaringan massa.

Dalam upaya-upaya membangkitkan nasionalisme pemuda, apakah musik sekedar menjadi hiburan pelengkap? Ketika Sumpah Pemuda dicanangkan, musik yang dilantunkan bukan sekedar sebagai entertainment. Musik waktu itu adalah alat pendidikan politik dan alat pemicu gerakan pemuda. Semestinya fungsi itu masih bisa diterapkan untuk masa kini.

Kuncinya adalah usaha penumbuhan musik-musik kebangsaan dan musisi-musisi nasionalis. Sebelum mencipta ”Indonesia Raya”, Wage Rudolf Supratman yang lahir pada 9 Maret 1903 adalah seorang wartawan yang senang bermain musik. Pada Kongres Pemuda I (1926) ia banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh pemuda kebangsaan sehingga terimpartasi oleh spirit nasionalisme yang sangat kuat. Itulah yang mendorongnya menciptakan lagu kebangsaan kita dan lagu-lagu bertema nasionalisme lainnya (”Ibu Kita Kartini”, ”Di TImur Matahari”, ”Mars Kepanduan Bangsa Indonesia”, ”Sang Wirawan”, dan lain-lain). Kita membutuhkan WR Supratman-WR Supratman masa kini, yaitu musisi-musisi berwawasan kebangsaan yang adalah aktivis-aktivis dalam gerakan-gerakan kebangsaan yang karyanya menjadi pemicu kebangkitan nasionalisme generasi muda.

*) Livy Laurens, SS, MA, praktisi seni, mahasiswa pascasarjana program studi seni pertunjukan UGM Yogyakarta (lihat juga www.opinilivylaurens.wordpress.com)

Advertisements

No Responses to “J. OKTOBER”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: