HARI-HARI PERINGATAN
Momen-momen Penuh Makna

Dec
03

HARI-HARI PERINGATAN

1 Nov = Hari Vegetarian Sedunia

3 Nov = Hari kerohanian

4 Nov = Hari wafatnya Cut Nyak Dien

4 Nov = Hari wafatnya Slamet Riyadi

4 Nov = Hari wafatnya Agus Salim

6 Nov = Hari Internasional bagi Penyelamatan Lingkungan dari Perang dan Konflik Bersenjata

6 Nov = Hari wafatnya Teuku Imam Bonjol

9 Nov = Hari Penemu

9 Nov = Hari Kebebasan Sedunia

10 Nov = Hari Pahlawan

12 Nov = Hari Kesehatan Nasional

14 Nov = Hari Brigade Mobil

14 Nov = Hari Diabetes Sedunia

16 Nov = Hari Toleransi Internasional

17 Nov = Hari Pelajar Internasional

17 Nov = Hari Kanker Paru-paru  Sedunia

19 Nov = Hari Geographic Information System

19 Nov = Hari Pria Internasional

20 Nov = Hari Anak Internasional

20 Nov = Hari wafatnya I Gusti Ngurah Rai

20 Nov = HUT KORPRI

21 Nov = Hari Halo Sedunia

21 Nov = Hari Televisi Sedunia

21 Nov = Hari Pohon

22 Nov = Hari Perhubungan Darat

24 Nov = Hari Evolusi

25 Nov = Hari Guru Nasional (Hari Lahir PGRI, 1945)

25 Nov = Hari Anti Kekerasan terhadap Wanita

25 Nov = Hari Internasioanal Kekerasan terhadap Perempuan

26 Nov = Hari Tanpa Belanja

29 Nov = Hari Solidaritas Internasional bagi Rakyat Palestina

30 Nov = Hari wafatnya Dr Soetomo

12 NOVEMBER – HARI KESEHATAN NASIONAL: WASPADAI PENYAKIT AKIBAT PEMBANGUNAN

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (12 November 2007)

Masalah kesehatan nasional berkaitan erat dengan pembangunan. Tentu saja, sebagai sebuah perubahan yang direncanakan (planned change), pembangunan didisain sebagai sebuah upaya sistematis untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Namun, kesalahan atau ketidakcermatan dalam perencanaan, justru menjadikan pembangunan sebagai biang berbagai masalah. Pembangunan bisa menyebabkan Indonesia semakin sehat atau justru sebaliknya. Lebih baik kita bersikap introspektif.

Pembangunan, khususnya pengembangan infrastruktur, merupakan tuntutan tak terelakkan. Jembatan, jalan, bendungan, waduk, kanal, pelabuhan, dan berbagai bangunan lainnya merupakan sarana penunjuang pertumbuhan ekonomi. Pembangunan infrastruktur di perkotaan, walau acak-acakan, melaju tanpa bisa dikendalikan. Meski tertatih-tatih dan masih jauh dari merata, pembangunan di Indonesia tetap jalan terus.

Keseimbangan Ekologis

Sejak proses industrialisasi bergulir, pembangunan infrastruktur modern sering berdampak negatif karena merusak keseimbangan alam. DuBos, sebagaimana dikutip oleh George M Foster (2005), mengatakan bahwa semua inovasi teknologi yang berhubungan dengan pengembangan industri, pertanian, kedokteran, akan mengganggu keseimbangan alam. Usaha manusia untuk menguasai alam akan mengganggu keteraturan alam sehingga alam menjadi tidak bersahabat dengannya.

Pembangunan infrastruktur, betapa pun itu menguntungkan bagi manusia, bisa merubah alam menjadi ganas. Penyakit-penyakit baru muncul sebagai reaksi pemberontakan alam terhadap pemerkosaan yang dilakukan manusia atas dirinya. Pembuatan terusan Panama yang menghubungkan samudera Pasifik dan Atlantik merupakan saksi bisu munculnya penyakit akibat pembangunan. Insinyur Perancis DeLessup terpaksa menghentikan pembangunan itu karena terkena penyakit demam kuning. Baru setelah dokter-dokter Amerika menemukan penyebabnya dan setelah vektor-vektor nyamuk dibasmi, pembangunan terusan itu bisa dilanjutkan lagi.

Menurut catatan Thayer Scudder (1973), pembangunan bendungan Volta di Ghana telah mengacaukan keseimbangan ekologis sehingga membiakkan siput-siput yang ternyata menjadi perantara bagi cacing pita dari genus schitosoma yang menjadi penyebab penyakit bilharziasis pada manusia. Pada tahun 1972, dua belas tahun sejak parasit itu ditemukan untuk pertama kalinya, lebih dari 70 persen dari 1.000 anak-anak yang tinggal di sekitar bendungan itu terkena infeksi.

Hughes dan Hunter (1970) menemukan hubungan antara pembangunan jalan raya dengan perkembangan penyakit tidur (trypanosomiasis) yang disebabkan oleh gigitan lalat tsetse di Ghana. Khususnya di daerah Ashanti, lalat-lalat itu berkembang-biak di saluran-saluran air dan semak-semak yang ada di kanan-kiri jalan raya. Para pekerja migran yang senantiasa melewati jalan raya cepat terjangkit penyakit tersebut.

Pembangunan industri tak jarang merusak lingkungan alam yang pada gilirannya menyebabkan penyebaran penyakit-penyakit. Air yang dulu tersedia tanpa batas (boundless supply), kini tercemar. Air mengalami mengalami perubahan konsentrasi ion hidrogen dan tercemar berbagai endapan, koloidal, bahan pelarut, dan berbagai mikro-organisme sehingga mendatangkan penyakit jika dikonsumsi.

Pertumbuhan kawasan kumuh (slum area) di perkotaan menjadi sumber sakit-penyakit. Arus urbanisasi sebagai dampak pembangunan perkotaan menyebabkan padatnya penduduk sehingga berkembanglah tempat-tempat pemukiman yang buruk, kotor, dan sama sekali tidak sehat. Belum lagi perilaku buruk mereka seperti membuang sampah sembarangan di sungai, menciptakan sumber-sumber penyakit baru.

Pembangunan juga memicu tumbuhnya gaya hidup modern yang tidak sehat, misalnya dalam hal mengkonsumsi makanan. Inilah gaya makan orang Amerika (dan orang Indonesia yang keAmerika-amerikaan): banyak mengkonsumsi minuman ringan (soft drink), daging, zat pati, garam, dan gula, kopi, teh, dan sedikit makan buah dan sayuran. Konsumsi tinggi protein dan makanan asin menguras kalsium dari tulang. Menurut Don Colbert MD, diet tinggi gula yang disertai konsumsi kafein, kopi, teh, dan minuman ringan akan menciptakan atmosfer asam dalam tubuh manusia yang menyebabkan osteoporosis. Tak kurang dari 20 juta orang di sana menderita osteoporosis.

Kontrak Ekologi

Pembangunan di Indonesia seringkali tidak berwawasan ekologi sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Banjir rutin di Jakarta yang menimbulkan berbagai penyakit disebabkan oleh dua hal. Pertama, faktor alam. Seluas 40 persen wilayah ini berada di bawah atau sama dengan permukaan laut, sedangkan air laut sering pasang. Kecuali itu, curah hujan per tahun memang cukup tinggi (1.750-2.500 mm). Kedua, faktor pembangunan yang tidak terencana dengan baik. Bangunan-bangunan yang didirikan tidak tembus air, sehingga tanah kurang berfungsi sebagai resapan air (recharge area). Pembangunan kawasan perkantoran dan pemukiman tidak mengelompok dalam satu sistem drainase atau daerah aliran sungai (DAS) tertentu. Kecuali itu, daerah rawa-rawa habis karena dipakai untuk pembangunan real estate. Padahal, rawa-rawa berfungsi sebagai “daerah parkir air”.

Kegagalan kota Jakarta dalam membangun sistem transportasi untuk mengatasi kemacetan ditambah pertambahan kendaraan bermotor yang sangat pesat pasti memperburuk kualitas udara. Jumlah mobil pribadi bertambah terus, dari 1.196.060 unit pada tahun 2002 menjadi 1.499.610 pada tahun 2006. Sampai Maret 2007, apabila ditambah dengan mobil barang dan bus, totalnya mencapai 2.677.303 unit. Setiap hari, bertambah 269 unit mobil pribadi. Ancaman penyakit akibat polusi udara semakin tinggi.

Yogyakarta yang “berhati nyaman” pun kini tidak bisa lagi memberi kenyamanan dalam bernafas. Hasil pemantauan Kantor Penanggulangan Dampak Lingkungan (April 2006) menunjukkan bahwa udara di 10 lokasi di kota Yogyakarta telah tercemar hingga mencapai 1.053 mikrogram per meter kubik. Pembangunan perlu dirancang ulang sehingga lebih berwawasan lingkungan.

Menurut Hughes dan Hunter, sebagaimana dikutip Foster dan Anderson (2005), pembangunan yang merupakan program yang merubah hubungan antara manusia dan alam harus dilihat dalam kerangka ekologi. Manusia dan alam harus senantiasa membarui “kontrak ekologi” yang di dalamnya diperhitungkan soal “biaya-biaya tersebunyi”. Dalam menjalankan pembangunan, jangan hanya memikirkan keuntungan-keuntungan, namun juga mempertimbangkan dampak-dampak kesehatan (timbulnya sakit-penyakit) yang akan menyebabkan kerugian-kerugian fisik dan finansial.

Pembangunan yang dijalankan tanpa menghargai alam akan menuai berbagai-bagai penyakit sebagai akibat rusaknya ekologi. Pada akhirnya, biaya yang harus ditanggung sangatlah besar. Alam, lapisan ozon misalnya, tak bisa dibeli dengan harga selangit sekalipun. Kita perlu merancang ulang pembangunan dengan lebih mempertimbangkan aspek-aspek ekologis, atau masyarakat dan anak cucu kita menjadi sakit lalu terjerat dalam penderitaan berkepanjangan.

25 NOVEMBER – HARI GURU NASIONAL: GURU, ANTARA PROFESI DAN DEDIKASI

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (24 November 2008)

Pernahkah anda memperhatikan sebuah iklan minuman di televisi yang menggunakan setting suasana belajar-mengajar di kelas? Pada klip itu digambarkan sosok guru yang sedang menjelaskan proses daur makanan: tumbuhan dimakan sapi, sapi dimakan manusia, dan seterusnya. Tiba-tiba seorang murid bertanya, ”Minumnya apa, pak?” Sejurus kemudian, dengan muka bloon sang guru berpakaian safari itu menjawab lirih dengan menyebut nama merk minuman yang diiklankan itu.

Citra guru di Indonesia bisa dibilang ambigu. Di satu sisi, figur guru dipuja-puji dengan diberi gelar istimewa sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pada masa Orde Baru, pujaan semacam itu begitu membahana. Di sisi lain, meskipun tak terekspos namun beredar luas dalam kehidupan sehari-hari, guru dicitrakan sebagai pribadi yang tidak intelek. Di Jawa, ada orang mengejek bahwa guru itu singkatan dari ”wis wagu tur saru” (jelek lagi porno). Masih banyak sindiran lain dan bahkan ejekan sinis tentang guru. Munculnya iklan bernada sindiran seperti di atas bisa jadi menunjukkan citra guru yang mengendap di alam bawah sadar masyarakat.

Beberapa faktor penyebab rendahnya citra guru adalah, pertama, pekerjaan sebagai guru terkadang dinilai sebagai profesi yang tidak bergengsi. Menjadi guru (SMU ke bawah) dianggap lebih rendah dibanding menjadi dosen di akademi atau di perguruan tinggi. Padahal, menjadi guru sebenarnya lebih sulit karena harus bisa menangani para siswa yang pertumbuhan jiwanya masih labil.

Kedua, bekerja menjadi guru terkadang dianggap tidak bergengsi karena gajinya lebih kecil bila dibanding bekerja di bidang lainnya. Karena itu terkadang menjadi guru merupakan pilihan terakhir setelah gagal mencari pekerajan-pekerjaan di bidang lain. Akibatnya, kualitas guru-guru juga rendah dan itu memperburuk citra.

Ketiga, stigma yang diberikan masyarakat tentang profesi ini terkadang juga tidak positif. Iklan di atas adalah salah satu contohnya. Dalam tayangan di media seperti sinetron atau film, kehidupan para guru seringkali dikontraskan dengan kehidupan para muridnya. Dari pembenturan kultural ini muncul label bahwa guru itu sosok yang lugu, kuno, dan tradisional. Sedangkan para murid dianggap sebagai representasi generasi muda yang ”keren”, ”gaul”, dinamis, kreatif, dan progresif. Jika terakumulasi maka pelabelan semacam ini akan merendahkan citra guru.

Profesi Multi Kompetensi

Jika benar-benar dijalani, menjadi guru merupakan profesi yang sangat tidak mudah. Pertama, mengajar siswa membutuhkan keahlian di bidang mata pelajaran yang diampu. Meskipun bahan ajar di tingkat SMU ke bawah lebih sederhana dan relatif mudah dikuasai oleh seorang guru yang berlatar belakang pendidikan sarjana, guru harus tetap belajar. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi sekarang, murid bisa lebih pandai dan lebih luas pengetahuannya ketimbang gurunya.

Kedua, guru dituntut untuk memiliki ketrampilan berkomunikasi seperti mengajar dengan menarik, dinamis, dan kreatif. Mengajar siswa jauh lebih sulit ketimbang mengajar mahasiswa. Tanpa ketrampilan berkomunikasi, para siswa akan jenuh, malas, ribut, bahkan anarkis. Apalagi jika para siswa berlatar belakang kemampuan akademis yang kurang, mereka sering tidak kooperatif. Jiwa remaja atau kanak-kanak membuat siswa sulit diatur dan tidak gampang diajak berpikir serius.

Ketiga, guru dituntut menjadi pemimpin dengan kemampuan ”manajemen kelas” yang bagus. Menjadi dosen mungkin cukup berbekal kepandaian atau keahlian dalam bidang studi yang diampunya. Sedangkan menjadi guru, bukan hanya harus pandai namun berwibawa, bisa mengontrol ”massa”, bisa mengendalikan atmosfer kelas. Suasana kelas di sekolah berbeda dengan suasana kelas di kampus. Para siswa bisa saja menjadi gaduh. Saat mengajar, ada anak-anak yang tidur, makan, corat-coret bangku, dan bahkan pacaran. Guru bisa menjadi burn out menghadapi situasi seperti itu.

Keempat, guru dituntut memiliki wawasan luas dan ketrampilan praktis berkenaan dengan pendekatan psikologis. Anak-anak dan remaja seringkali mempunyai berbagai-bagai masalah kejiwaan. Ada yang stress, depresi, nakal, memberontak, dan sebagainya. Belum lagi menghadapi anak-anak dari keluarga yang broken. Semua membutuhkan kesabaran, ketelatenan, pendekatan, konseling, dan sebagainya. Guru dituntut untuk bisa memainkan peran sebagai ”orangtua kedua” dan sebagai seorang ”pekerja sosial”.

Dengan demikian, profesi guru merupakan profesi yang mulia. Menjadi guru berarti menjadi edukator yang sekaligus psikiater dan pekerja sosial. Pekerjaanya bukan hanya ”cuap-cuap” di depan kelas, namun melakukan pembinaan sumber daya manusia. Karena itu sudah sewajarnya jika kotraprestasi yang diberikan harus tinggi. Sayangnya, tidak semua orang mau tahu dengan kompleksitas tugas seorang guru. Di sisi lain, ketika sekolah menarik uang terlalu tinggi, masyarakat mengeluh karena kesulitan untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Dalam hal inilah Pemerintah perlu memperhatikan nasib guru dengan memperhitungkan tugas berat tersebut. Di sisi lain, para guru sejati hendaknya menjalani profesi itu dengan multi kompetensi dan mutu kerja yang tinggi.

Pahlawan Pendidikan

Berbicara tentang kiprah guru di Indonesia tak bisa dilepaskan dari perjuangan bangsa Indonesia meraih, mempertahankan, dan mengisi kemedekaannya. Semangat patriotisme dan jiwa persatuan telah mendorong berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945. Pada masa itu, visi PGRI adalah mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia, mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan, serta membela hak dan nasib buruh pada umumnya dan guru pada khususnya. Pada masa perjuangan kemerdekaan itu para guru ikut bergerak untuk menyelenggarakan pendidikan di mana mungkin selain juga berjuang secara fisik yang dikenal dengan sebutan “pendidikan front”.

Sekarang, Indonesia sudah memiliki banyak sekolah dan kampus. Soal prestasi siswa, bangsa kita tidak kalah. Kemenangan para pelajar Indonesia di olimpiade sains internasional sangat membanggakan. Namun, masih ada jutaan anak dan remaja yang belum bisa mengenyam pendidikan. Kemiskinan dan kemelaratan di satu sisi dan biaya sekolah yang tinggi di sisi lain menyebabkan bangsa ini masih terbelakang. Indonesia masa kini membutuhkan pahlawan-pahlawan pendidikan. Banyak desa dan daerah pedalaman yang belum terjamah layanan pendidikan. Dibutuhkan lebih banyak sosok-sosok laskar pendidik seperti Burhanuddin yang mendirikan SMP alternatif Qaryah Tayyibah di desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tegah. Karya, kreatifitas, dan dedikasinya telah menjadi suluh bagi para remaja dari komunitas petani yang bersahaja.

Jadi, kontribusi guru bagi kemajuan bangsa ini sangatlah besar. Merekalah penentu hari depan generasi muda. Merekalah para pahlawan yang jasanya harus dihargai. Namun, citra guru masa kini akan lebih ditentukan oleh bagaimana para guru itu menunjukkan profesionalitas dan dedikasi mereka.

Advertisements
Dec
03

HARI-HARI PERINGATAN

1 Des = Hari AIDS Sedunia

2 Des = Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan

2 Des = Hari Konvensi Ikan Paus

3 Des = Hari Penyandang Cacat Sedunia

3 Des = Hari Kebaktian Pekerjaan Umum

4 Des = Hari Artileri

5 Des = Hari Internasional Sukarelawan

5 Des = Hari Armada

7 Des = Hari Penerbangan Sipil Internasional

9 Des = Hari Anti Korupsi Sedunia

10 Des = Hari Hak Asasi Manusia Sedunia

10 Des = Hari Hak Asasi Binatang

11 Des = Hari Gunung Internasional

11 Des = Peringatan Hari Korban 40.000 jiwa di Sulewesi Selatan

12 Des = Hari Bakti Transmigrasi (1950)

15 Des = Hari Infanteri

17 Des = Hari wafatnya HOS Cokroaminoto

18 Des = Hari Migran Internasional

19 Des = Hari Kerjasama Selatan-Selatan

19 Des = Hari Ulang Tahun UGM (1949)

20 Des = Hari Solidaritas Kemanusiaan Internasional

20 Des = Hari Sosial

22 Des = Hari Ibu (Kongres Wanita I)

27 Des = HUT Bank Dunia

28 Des = Hari wafatnya Saman Hudi (1955)

28 Des = Hari wafatnya Cik Di Tiro

1 DESEMBER – HARI AIDS SEDUNIA: MEMUTUS JALAN MENUJU AIDS

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (1 Desember 2009)

Agaknya manusia modern perlu kembali merenungkan presuposisi agama yang mengatakan bahwa penyakit disebabkan oleh dosa. Memang, orang tak bersalah bisa pula terjangkit AIDS, misalnya pada kasus penyalahgunaan jarum suntik yang terkontaminasi virus HIV dan kasus anak-anak yang tertular HIV karena mengkonsumsi air susu ibunya yang berpenyakit AIDS. Namun, fakta sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa dosa menjadi preseden penderitaan manusia akibat AIDS.

Sebelum merebaknya AIDS, umat manusia yang sudah sejak lama hidup dalam kegelapan ini telah diguncang berbagai wabah penyakit yang menelan banyak sekali korban. Pada abad ke-14, wabah Pneumonia (penyakit infeksi paru-paru) karena bakteri, virus, dan mikroplasma, menelan ribuan jiwa. Pada 1665, wabah penyakit Pes membunuh 30.000 penduduk London, Inggris. Ilmu kedokteran baru mengetahui penyebab penyakit ini (bacilus pasteurella pestis) pada 1894. Pada abad ke-18, wabah penyakit demam kuning (jack kuning) menyiksa 24.000 orang dan menewaskan 5.000 jiwa. Pada abad ke-19, wabah penyakit kolera mengguncang Eropa dan Asia. Pada 1918, wabah penyakit flu Spanyol membunuh 40 juta orang di seluruh dunia.

Sekarang, giliran AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom defisiensi imun yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau virus penurun kekebalan tubuh manusia muncul sebagai epidemi yang paling menghancurkan (catastrophic) dalam sejarah. Menurut WHO, AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta orang sejak 1981. Diperkirakan, antara 33,4 sampai 46 juta orang lebih di seluruh dunia mengidap virus HIV.

AIDS adalah pembunuh keji yang menghabisi nyawa manusia melalui penderitaan fisik dan psikologis yang sangat berat. Menurut riset WHO (2005), pada stadium III, penderita akan diserang diare kronik sebulan lebih, terinfeksi bakteri, dan terkena tuberkulosis. Pada stadium IV, penderita akan mengalami beberapa penyakit khas yang merupakan indikator AIDS, yaitu taksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi.

Salah sebuah riset menyimpulkan bahwa epidemi AIDS sekarang ini berasal dari kawasan danau Victoria di Afrika Timur yang ditularkan oleh sejenis kera hijau. Kini, kawasan gurun Sahara di Afrika merupakan daerah terburuk yang terkena infeksi, diperkirakan 21,6 sampai 27,4 juta jiwa mengidap HIV. Dua juta di antara mereka adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun. Pada tahun 2005 saja sudah terdapat lebih dari 12 juta anak yatim piatu di sana terkena HIV. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, 500.000 anak-anak telah mati sebagai korban AIDS.

Menurut majalah TIME (Februari 1987) perkembangan awal epidemi AIDS di Amerika Serikat ditandai dengan munculnya penderita AIDS pertama pada tahun 1981. Jumlah penderita berkembang menjadi 5.000 orang pada tahun 1983, dan menjadi 170 ribu orang pada tahun 1989. Dua tahun berikutnya, 1991, jumlahnya melonjak menjadi 270 ribu orang. Di Inggris, epidemi AIDS semakin heboh sejak bintang musik rock terkenal Freddie Mercury meninggal karena penyakit ini pada tahun 1991. Pada tahun 1992 saja WHO mengeluarkan informasi mengerikan bahwa dalam 1 menit ada 3 orang terinfeksi HIV-AIDS. Kalau dalam 24 jam ada 1.440 menit maka dalam waktu sehari semalam saja sudah ada 4.320 orang terjangkit AIDS! Sekarang, tiap 1 menit ada 6 orang terjangkit AIDS. Jadi, dalam sehari semalam ada 8.640 pendatang baru di dunia AIDS!

Virus HIV ditularkan melalui kontak langsung antara membran mukosa atau aliran darah dengan cairan tubuh yang mengandung virus tersebut, seperti darah, air mani (semen), cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Pemindahan virus seperti itu dapat terjadi melalui hubungan seksual (vaginal, anal, dan oral), transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang telah terkontaminasi, pertukaran HIV antara ibu dan bayi selama masa kehamilan, bersalin, atau menyusui.

Ketika virus HIV masuk, ia akan menyerang organ vital sistem kekebalan tubuh manusia (sel T, makrofag, dan sel dendritik). Lama waktu dari infeksi HIV ke AIDS adalah 9 sampai 10 tahun. Sedangkan rata-rata hidup seseorang setelah terkena AIDS hanya 9,2 bulan. Sejauh ini belum ditemukan vaksin HIV dan obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk mencegah penyakit ini adalah penghindaran masuknya virus HIV dalam tubuh manusia. Penanganan bagi yang sudah terinfeksi adalah dengan perawatan dengan terapi antiretroviral atau terapi HAART, dikenal sejak tahun 1996. Tetapi, meskipun HAART membuat stabilisasi gejala dan viremia pasien, tidak bisa menyembuhkan pasien dari HIV atau meredakan gejala-gejalanya yang semakin parah.

Dari beberapa jalan menuju AIDS di atas, perilaku seks bebas (heteroseksualitas, homoseksualitas, biseksualitas) merupakan jalan-jalan nikmat menuju neraka. Sekarang, manusia semakin ’kreatif’ mencari banyak jalan menuju kepuasan hawa nafsu. Tidak puas dengan lawan jenis, seks sesama jenis pun dipraktekkan. Terminologi penyimpangan seksual semakin berkembang saja, bahkan ada istilah nekrophilia yaitu hubungan seks antara manusia dengan mayat! Inilah jaman edan!

Dunia sekarang rupanya mulai menyadari bahwa masalah AIDS adalah masalah kebobrokan peradaban manusia. Kehancuran moral membuka jalan lebar bagi perkembangan epidemi AIDS. Karena itu, kini dikembangkan sebuah pendekatan baru berbasis moral dan kearifan budaya untuk menanggulangi AIDS. Dinamakan sebagai pendekatan ”ABC”: (A)bstinence or delay of sexual activity, especially for youth (menahan nafsu hubungan seksual, terutama untuk anak muda); (B)eing faithful, especially for those in committed relationships (setia pada pasangan, terutama bagi mereka yang sudah berada pada suatu hubungan); (C)ondom use, for those who engage in risky behavior (penggunaan kondom, untuk orang yang perilaku seksualnya berisiko). Jalan-jalan nikmat menuju AIDS harus diputuskan dengan upaya penegakkan agama dan pembangunan moral. Saatnya mengalihkan kehidupan umat manusia ke jalan-jalan baru yang lebih waras, arif, beradab, dan religius yang menjadikan dunia lebih baik.

1 DESEMBER – HARI AIDS SEDUNIA: AIDS, CNN, dan ABC

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (1 Desember 2007)

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom defisiensi imun yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau virus penurun kekebalan tubuh manusia tercatat sebagai epidemi yang paling menghancurkan (catastrophic) dalam sejarah. WHO memperkirakan AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta orang sejak tahun 1981. Sekarang, antara 33,4 sampai 46 juta orang di seluruh dunia mengidap virus HIV. Setiap 1 menit, 6 orang terjangkit virus HIV.

Penyebarannya di Indonesia cukup memprihatinkan. Pada tahun 1995, Menteri Kesehatan RI Adyatma sudah memberi peringatan. Saat itu saja, di Indonesia sudah terdapat 20.000 penderita AIDS dengan beban ekonomi sebesar Rp. 33 juta per tahun untuk setiap kasus. Dengan demikian, diperlukan kurang lebih Rp. 660 milyar per tahun untuk memerangi AIDS di Indonesia. Sekarang, menurut Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, di Indonesia diperkirakan terdapat 90.000 sampai 120.000 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Selama ini dunia telah menyatakan perang melawan AIDS. Gerakan-gerakan nasional dan internasional telah digalakkan. Jutaan dolar dikucurkan. Para ahli bekerja ekstra keras untuk menemukan strategi jitu melawan AIDS. Namun, sejauh ini belum ditemukan vaksin HIV dan obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk mencegah penyakit ini adalah penghindaran masuknya virus HIV dalam tubuh manusia. Penanganan bagi yang sudah terinfeksi adalah dengan perawatan (terapi) antiretroviral atau terapi HAART, dikenal sejak tahun 1996. Tetapi, meskipun HAART membuat stabilisasi gejala dan viremia pasien, tidak bisa menyembuhkan pasien dari HIV atau meredakan gejala-gejalanya yang semakin parah.

Pendekatan ”CNN”

Perilaku seks menyimpang, terutama heteroseksualitas dan homoseksualitas, sangat riskan bagi penularan HIV-AIDS. Di Amerika Serikat, pada masa awal penyebaran epidemi tersebut (1986), sebagian besar (65 persen) penderita AIDS adalah kaum homoseks dan kaum biseks. Virus HIV memang menular melalui cairan-cairan tubuh yang terjadi dalam hubungan seksual sepertu air mani (semen) dan cairan vagina. Anal intercourse yang seringkali dilakukan oleh pasangan homoseks beresiko paling tinggi menularkan virus HIV. Meskipun penyebaran HIV sekarang juga terjadi melalui penyalahgunaan narkotika (injection drug users) dan kehamilan ibu pengidap virus, perilaku seks menyimpang tetap menjadi faktor penyebab yang berpengaruh sangat besar.

Karena itu, salah satu metode yang direkomendasi untuk mencegah penularan HIV-AIDS adalah pendekatan ”CNN”. Ini bukan nama sebuah stasiun televisi di AS, namun singkatan dari: (C)ondom use, for those who engage in risky behavior (penggunaan kondom bagi mereka yang berperilaku seks penuh resiko); (N)eedles, use clean ones (jarum, gunakan yang bersih/steril); (N)egotiating skills, negotiating safer sex with a partner and empowering women to make smart choice (ketrampilan bernegosiasi kepada teman kencan untuk melakukan hubungan seks yang aman, dan menguatkan peran wanita untuk secara cerdas memilih jenis hubungan seks yang aman).

Secara teknis, efektif. Namun, pendekatan ”CNN” cenderung bertolak dari asumsi bahwa manusia-manusia sekarang ini sudah tidak dapat lagi hidup tanpa seks bebas. Semua orang maniak seks. Jadi, cara untuk mengatasi supaya tidak tertular HIV-AIDS adalah mengamankan setiap aktivitas seksual dari resiko tersebut. Dengan kata lain, seks bebas silakan saja, asal pakai kondom!

Pendekatan ini juga cenderung mengasumsikan wanita-wanita masa kini adalah penikmat-penikmat seks, bukannya korban-korban libido dan kekerasan seks kaum pria. Kaum wanita bahkan mau melayani nafsu seks kaum pria dengan menuruti selera laki-laki, misalnya oral seks. Melalui pendekatan ini, para wanita didorong untuk menjadi smart dalam memilih jenis hubungan seks yang aman bagi dirinya. Dengan kata lain, wanita dipersilakan menikmati seks bebas, yang penting smart.

Artinya, pendekatan ”CNN” tidak menyentuh masalah perbaikan moral umat manusia. Pendekatan ini justru menunjukkan jalan aman bagi orang-orang yang hendak melakukan seks bebas. Bagi anak-anak muda yang suka eksperimen, barangkali justru menambah kegairahan untuk semakin melakukan percobaan. Demikian juga petunjuk praktis tentang penggunaan jarum suntik yang steril. Peringatan itu tidak membuat para pecandu narkotika bertobat, malahan semakin giat, sebab telah mengetahui cara-cara aman supaya tidak tertular virus HIV-AIDS.

Pendekatan ”ABC”

Pendekatan lain yang menurut penulis lebih bersifat kultural-religius dan berorientasi pada pembaruan peradaban adalah pendekatan ”ABC” yang kini direkomendasi oleh pemerintah AS. Ini bukan nama merk baterai terkenal, tetapi singkatan dari: (A)bstinence or delay of sexual activity, especially for youth (menahan nafsu hubungan seksual, terutama untuk anak muda); (B)eing faithful, especially for those in committed relationships (setia pada pasangan, terutama bagi mereka yang sudah berada pada suatu hubungan); (C)ondom use, for those who engage in risky behavior (penggunaan kondom, untuk orang yang perilaku seksualnya berisiko).

Penggunaan kondom tetap disarankan bagi mereka yang memang tidak bisa menahan diri. Artinya, pendekatan ini realistis, mengingat masalah seks merupakan kebutuhan yang bisa membuat orang menjadi ketagihan dan terikat padanya. Namun, ini bukan cara yang utama dan bukan pula menjadi alasan pembenar bagi perilaku amoral.

Hal pertama yang harus ditumbuhkan adalah pengendalian diri, terutama bagi anak-anak muda. Hal pengekangan hawa nafsu berkaitan dengan kedewasaan mental dan kepribadian serta perilaku yang bermoral. Riset membuktikan bahwa semakin dini remaja berpacaran, semakin cepat mereka masuk dalam kegiatan intim seksual. Menurut penelitian Brent C Miller dan Terrence D Olsen di AS, 91 persen dari remaja yang mulai berpacaran pada usia 12 tahun melakukan hubungan seks pertama mereka pada akhir masa SMU. Tetapi, hanya 20 persen dari remaja yang mulai berpacaran pada usia 16 tahun melakukan hubungan seks pertama mereka pada akhir masa SMU.

Hal kedua yang harus dikembangkan adalah kesetiaan terhadap pasangan hidup, jangan berganti-ganti pasangan. Pendekatan ini mengarah pada penekanan prinsip komitmen kepada istri/suami dan prinsip menghormati lembaga perkawinan. Majalah Fortune (10 Agustus 1992) mencatat apa yang terjadi di AS setiap hari: 1.000 remaja di bawah umur menjadi ibu, 1.106 remaja wanita melakukan aborsi, dan 2.750 anak-anak melihat orangtua mereka bercerai. Betapa institusi keluarga tidak lagi dihargai sebagai sebuah persatuan pria-wanita yang dikuduskan dan diberkati Tuhan.

Pendekatan ”ABC” yang berbasis pendidikan moral dan penegakan ajaran agama ini ternyata berhasil diterapkan di Uganda, mampu menurunkan epidemi AIDS sampai 15 persen. Antropolog Edward Green dari Harvard memuji keberhasilan Uganda dalam mengintensifkan peran agama, pendidikan, pelayanan konseling, dan kearifan-kearifan tradisional untuk menyelamatkan penduduknya dari epidemi AIDS.

22 DESEMBER 2008- HARI IBU: 80 TAHUN PERGERAKAN PEREMPUAN INDONESIA

Oleh Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (22 Desember 2008)

Peringatan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember pada dasarnya bukan sekedar merupakan peringatan untuk menghargai martabat wanita, namun juga peringatan tentang pergerakan kaum perempuan Indonesia. Berbeda dengan Mother’s Day di Amerika Serikat yang merupakan hari untuk menghormati keberadaan kaum ibu seperti diusulkan oleh Misss Anna Jarvis pada tahun 1907. Hari peringatan itu mulai ditetapkan untuk pertama kalinya di Philadelfia pada tahun 1908.

Munculnya gerakan perempuan di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan RI merupakan manifestasi semangat nasionalisme bangsa ini. Pada awalnya, setelah Belanda melancarkan politik etis, dr Wahidin Sudirohusodo mendirikan Budi Utomo yang menjadi starting point bangkitnya nasionalisme Indonesia (20 Mei 1908). Gerakan-gerakan nasional anti penjajahan pun semakin merebak, ditandai dengan munculnya Sarekat Islam (1911) dan kemudian Indische Partij (1912). Perang Dunia I yang meletus pada tahun 1914 meningkatkan eskalasi gerakan nasional Indonesia. Posisi tawar (bargaining position) orang Indonesia semakin meningkat ketika Belanda menyetujui pembentukan Dewan Rakyat (Volksraad) yang jumlah anggotanya berimbang antara wakil-wakil Indonesia dan Belanda (1918).

Setelah itu, gerakan nasional Indonesia memasuki tahapan radikal. Menurut para sejarawan, radikalisme itu muncul sebagai akibat krisis ekonomi (1921) dan krisis perusahaan gula (1918) serta kepemimpinan reaksioner Gubernur Jenderal Fock. Masa radikal ini ditandai dengan tumbuhnya gerakan-gerakan nasionalisme ekstrem seperti Indische Vereeniging yang kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Nasionalisme radikal melahirkan gerakan pemuda (1928) dan kemudian gerakan wanita di seantero Jawa (perkumpulan Kartini Fonds di Semarang, Putri Mardika di Jakarta, Maju Kemuliaan di Bandung, Wanita Rukun Santoso di Malang, Budi Wanito di Solo, dan lain-lain).

Pada tanggal 22 Desember 1928, organisasi-organisasi wanita se-Indonesia mengadakan kongres nasional (Konggres Perempuan Indonesia) di Yogyakarta. Hasilnya, dibentuklah Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI) yang kemudian berganti nama menjadi Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII) pada tahun 1929. Gerakan itu memicu semangat kaum wanita Indonesia untuk aktif berpolitik. Pada tahun 1930, didirikan gerakan ”Istri Sadar” dan juga ”Istri Indonesia” yang ikut aktif dalam pemilihan anggota dewan-dewan kota praja sejak tahun 1938.

Keterlibatan dalam Politik

Dari kilas balik sejarah, dapat disimpulkan bahwa gerakan perempuan di Indonesia sekarang sebenarnya mewarisi dua semangat yang utama. Pertama, semangat emansipasi. Ini terinspirasi dari kiprah seorang pahlawan emansipasi wanita, Kartini, yang hari kelahirannya pada tanggal 21 April 1879 diperingati sebagai ”Hari Kartini”. Kedua, semangat pergerakan nasional dan politik. Ini terinspirasi dari gerakan organisasi-organisasi wanita yang pada tanggal 22 Desember 1928 mengadakan Konggres Perempuan Indonesia, yang tanggal itu kemudian dijadikan sebagai peringatan ”Hari Ibu”. Artinya, wanita Indonesia mempunyai referensi yang sangat kuat untuk melancarkan emansipasi dan memotivasi diri untuk terjun di kancah politik nasional.

Kini, 104 tahun setelah Kartini meninggal pada tahun 1904, emansipasi wanita di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Perempuan-perempuan Indonesia tidak lagi terbelakang. Mereka bukan lagi menjadi ”konco wingking”, namun menjadi tokoh-tokoh berpendidikan tinggi, berkarir sukses, dan berpengaruh besar dalam masyarakat. Ekualitas gender di Indonesia dan penghargaan atas martabat kaum wanita semakin berkembang membaik.

Namun, 80 tahun setelah Konggres Perempuan Indonesia digelar pada tanggal 22 Desember 1928, keterlibatan wanita Indonesia di kancah politik dan pergerakan nasional masih belum maksimal. Keterwakilan kaum wanita di parlemen misalnya, masih kecil. Karena itu, banyak aktifis wanita mendesak diadakannya suatu tindakan khusus sementara (affirmative action) berupa kuota 30% perempuan dalam kepengurusan partai politik dan lembaga dewan perwakilan rakyat dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Menjelang Pemilu 2009, kelompok-kelompok perempuan memperjuangkan kebijakan itu melalui lobi-lobi kepada fraksi-fraksi di DPR.

Sejauh ini, keterwakilan kaum wanita Indonesia di parlemen masih rendah dibanding dengan di negara-negara lain di Asia. Vietnam tertinggi (27,3%), disusul Pakistan (21,6), Filipina (17,8), dan Malaysia (10,5). Namun, Indonesia (8,8% pada Pemilu 1999), masih lebih baik daripada Sri Lanka (4,4%) dan Bangladesh (2,0%). Menurut Ani Sutjipto yang bekerja pada CETRO (Center for Electoral Reform), affirmative action sangat penting untuk membuka peluang bagi kaum perempuan yang selama ini termarjinalkan supaya dapat terintegrasi dalam kehidupan publik secara adil (Jurnal Perempuan No 34, tahun 2004).

Belajar dari Swedia dan India

Dalam hal kemajuan pergerakan perempuan, keterlibatan wanita dalam politik, dan keterwakilan wanita dalam parlemen, kita perlu belajar banyak dari Swedia dan India. Perjuangan di Swedia memang sudah lama. Pada tahun 1884 sudah ada diskusi tentang hak pilih dan kemungkinan wanita duduk di parlemen. Pelopor pejuang hak politik kaum wanita Swedia ternyata justru seorang pria bernama Fredrik Borg. Pada tahun 1970, kuota perempuan dalam parlemen Swedia adalah 10%. Pada Pemilu 1988, 131 orang dari 349 anggota parlemen Swedia adalah perempuan (38%). Pada tahun 2002, naik menjadi 45%, berarti lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat dan Inggris. Kini, hampir 50% menteri di Swedia adalah wanita. Bahkan, Menteri Pertahanan pun adalah seorang perempuan. Keterlibatan aktif kaum wanita di kancah politik terbukti meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender di negeri feminis tersebut.

India juga masih lebih maju ketimbang Indonesia. Kaum wanita memperjuangkan hak-hak politik mereka melalui jalur konstitusi. Kita perlu meniru, sebab di India sudah berkembang perundang-undangan yang secara sangat tegas menjamin hak-hak kaum wanita dan mendorong keterlibatannya dalam politik nasional. Pada tahun 1976 berdiri komite khusus untuk wanita (Committee on the Status of Women in India) yang memperjuangkan keadilan sosial-ekonomi kaum wanita dan keterwakilan perempuan dalam lembaga-lembaga politik. Pada tahun 1988, visi mereka diakomodir oleh Pemerintah dan diimplementasikan dalam Perencanaan Nasional untuk Perempuan (National Perspective Plan for Woman). Sementara itu, Amandemen Undang-undang Dasar India pada tahun 1993 menyertakan jaminan untuk kuota 30% perempuan dalam lembaga-lembaga pemilihan publik.

25 DESEMBER – HARI NATAL: KETIKA NATAL DIRAYAKAN DI KRATON

Oleh : Haryadi Baskoro

Artikel Opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (26 Desember 2007)

Umat Kristiani (Kristen dan Katolik) Yogyakarta selayaknya bersyukur karena selama ini, sejak tahun 2003 silam, diperkenankan untuk merayakan Natal bersama di Pagelaran Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Sementara umat Kristiani di tempat-tempat lain di Indonesia merayakan Natal dengan was-was karena trauma teror bom dan kerusuhan, umat Kristiani di Yogyakarta justru menerima kesempatan istimewa.

Secara antropologis, perayaan Natal di Kraton merupakan sebuah peristiwa religio-kultural yang menarik. Natal merupakan peringatan kelahiran (penjelmaan) Sang Kristus yang bagi umat Kristiani dipercaya sebagai Tuhan dan Juruselamat yang berpenetrasi dalam kehidupan kultural umat manusia dengan menunjukkan keberpihakan kepada kaum lemah, sebagaimana tersimbolisasi dari kelahiran Kristus di kandang domba. Sedangkan Kraton, adalah pusat spiritual dan kebudayaan Jawa di tempat mana seorang raja (Sultan) menyatakan kepemimpinannya yang merakyat (manunggaling kawulo gusti). Perayaan Natal di Kraton merupakan seremoni sarat makna.

Kearifan Sultan

Kesempatan istimewa yang diberikan bagi umat Kristiani untuk merayakan Natal bersama di Kraton menunjukkan kearifan Sultan sebagai seorang pemimpin. Sejak Kasultanan Yogyakarta berdiri pada tahun 1755 (Perjanjian Giyanti), Sultan HB I dan penerusnya mempunyai gelar Senapati ing Ngalaga Ngabdul Rahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah. Artinya, Sultan adalah seorang pemuka dan pemimpin agama. Kalau kemudian Sultan HB X sebagai pewaris tradisi Mataram Islam mengijinkan umat non-Islam beribadah di Kraton, hal itu sangat luar biasa.

Dalam pidato jumenengan pada tanggal 7 Maret 1989 yang berjudul “Tahta bagi Kesejahteraan Kehidupan Sosial-Budaya Rakyat”, HB X menyatakan untuk senantiasa hangrengkuh siapa pun, merangkul semua pihak. Sejauh ini, HB X telah menunjukkan konsistensinya, khususnya dalam memberi perhatian kepada berbagai kelompok agama.  Pada tanggal 13 Februari 1999, HB X memberikan sekitar 200 hektar tanah milik Kraton di kawasan Kotagede-Piyungan untuk dijadikan Perkampungan Islam Internasional (International Islamic Village). Dedikasi itu disambut penuh antusias oleh 29 Duta Besar dari negara-negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam). Jika kemudian HB X memberi kesempatan istimewa bagi umat Kristiani untuk merayakan Natal di teras istana Kraton (Pagelaran), hal itu menunjukkan sikapnya sebagai seorang raja yang adil.

’Pisowanan Ageng’

Dalam ajaran Kristiani, Tuhan adalah Seorang Raja Semesta Alam yang karena sifat kasih-Nya berkenan menyapa kehidupan manusia melalui penjelmaannya dalam Pribadi Kristus yang kemudian dikorbankan di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Inilah konsep manunggaling kawulo gusti versi Kristiani. Di sisi lain, kekristenan juga mengajarkan bahwa setiap pemerintahan yang baik yang ada di muka bumi ini berasal dari Tuhan (surat Roma 13:1). Sang Kristus mengajarkan supaya umat Kristiani memberikan pengabdian kepada Tuhan dan kepada raja atau pemimpin di dunia ini secara proporsional.

Bertolak dari perspektif tersebut, perayaan Natal di Kraton, pertama mempunyai makna religius sebagai suatu ibadah kepada Tuhan. Kedua, mempunyai makna kultural sebagai suatu wujud pengabdian dan penghormatan segenap umat Kristiani Yogyakarta kepada Sultan sebagai seorang raja. Umat Kristiani berbondong-bondong datang ke Kraton untuk memberi apresiasi, dukungan, dan penghormatan kepada Sultan. Peristiwa itu dapat diperbandingkan dengan momen pisowanan ageng yang dilakukan segenap rakyat manakala memberi dukungan kepada Sultan dan Kraton.

Kekristenan bukanlah representasi dari kebudayaan tertentu, sekalipun dalam perkembangannya banyak bersentuhan dengan kebudayaan Ibrani dan kemudian kebudayaan Barat. Alunan lagu-lagu Natal yang menggema di Kraton sejak tahun 2003 secara esensial berbeda dengan alunan musik western yang untuk pertama kalinya membahana di Kraton pada tahun 1993. Kala itu, penyanyi Cekoslovakia Vera Soukupova dan pianis Trisutji Julianti mengelar konser opera musik di Bangsal Sri Manganti Kraton Yogya. Perayaan Natal di Kraton bukan sebuah penetrasi kultural atas kebudayaan Jawa. Kekristenan menghargai setiap kebudayaan dan pemimpin yang ada.

Dengan demikian, perayaan Natal di Kraton seharusnya juga menjadi ajang introspeksi kultural bagi umat Kristiani itu sendiri. Seringkali, kekristenan dalam dinamikanya terjerembab dalam jerat-jerat budaya rendahan. Perayaan Natal acapkali dilakukan dengan nuansa populer yang kebarat-baratan dan bahkan terkesan lebih merupakan pertunjukan entertainment. Kemegahan dan kemewahan perayaan Natal terkadang menjadi ajang unjuk kekuatan dari gereja-gereja kaya dan besar yang dengan kekuatan kapitalistiknya melibas perkembangan gereja-gereja kecil.

Dialog

Perayaan-perayaan Natal yang diadakan di gedung-gedung gereja atau di gedung-gedung pertemuan secara sosiologis merupakan bentuk pertemuan-pertemuan eksklusif komunitas-komunitas Kristiani. Paling-paling, pihak panitia mengundang para tamu dari kalangan aparat Pemerintah atau tokoh masyarakat sekitar. Namun, secara eksistensial, perayaan Natal semacam itu bersifat tertutup.

Ketika Natal dirayakan di Kraton, yang secara prinsip bukan merupakan tempat umum namun merupakan pusat spiritualitas dan pusat kebudayaan non-Kristiani, hal itu merupakan sebuah perjumpaan religio-kultural antara agama Kristiani dengan agama dan kebudayaan non Kristiani. Bagi umat Kristiani, semestinya itu merupakan kesempatan untuk berdialog dengan komunitas non-Kristiani. Minimal, umat Kristiani dapat belajar banyak dari kearifan-kearifan di luar kekristenan.

Arogansi imani seringkali mendorong orang-orang beragama untuk bersikap menghakimi agama atau kebudayaan lain (truth claim). Sikap dan tidakan semacam itu tidak pernah membawa kedamaian di tengah pluralitas agama-agama. Ketika umat Kristiani masuk Kraton, sikap yang diperlukan adalah merendahkan diri untuk belajar. Kraton adalah sebuah pusat spiritual dan kebudayaan yang telah lama menyimpan harta karun kearifan lokal yang telah teruji dalam sejarah.

Perayaan Natal di Kraton kiranya menjadi sebuah model dialog lintas agama dan budaya. Tanpa semangat dialog dan saling belajar, kegiatan perayaan agamawi semacam itu takkan lebih dari sekedar kegiatan anjang sana. Bahkan, bisa ditafsirkan negatif karena terkesan sebagai sebuah penetrasi agamawi. Kiranya semua kelompok agama di Yogyakarta memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh pihak Kraton untuk membangun kebersamaan, bukannya memicu rasa curiga, iri hati, dan akhirnya konflik!